Dollar Mulai Naik, Euro Kok Nggak Jatuh?
EUR/USD masih konsolidasi setelah menguat kuat selama dua hari terakhir. Di sesi Asia hari Selasa(10/1), pergerakannya cenderung sempit dan bertahan di sekitar 1,1900, sedikit di bawah level tertinggi lebih dari sepekan yang sempat dicapai sehari sebelumnya.
Pergerakan ini tertahan karena Dolar AS sempat memantul dari level terendah enam hari. Tapi, kenaikan USD juga terlihat tidak mudah berlanjut, karena pasar makin yakin The Fed masih akan memangkas suku bunga dua kali lagi tahun ini. Ditambah lagi, suasana pasar yang cenderung risk-on membuat dolar sebagai aset safe-haven jadi kurang “laku” untuk diburu.
Dari sisi sentimen, ada faktor lain yang ikut menekan USD: Bloomberg melaporkan regulator Tiongkok menyarankan lembaga keuangan untuk membatasi kepemilikan obligasi pemerintah AS, karena kekhawatiran volatilitas dan risiko konsentrasi. Sementara itu, ECB dinilai lebih hawkish, karena sejak Juni bank sentral Eropa menahan diri setelah rangkaian pemangkasan suku bunga, dan data pertumbuhan Eropa yang relatif kuat mengurangi urgensi stimulus tambahan. Kombinasi ini membuat arah EUR/USD dinilai masih lebih “gampang” ke atas, dan koreksi turun bisa dilihat sebagai peluang beli.
Pasar kini menunggu data Penjualan Ritel AS dan komentar pejabat The Fed yang bisa menggerakkan USD dalam jangka pendek. Namun sorotan utama tetap ke rilis NFP AS yang tertunda pada Rabu, lalu disusul data inflasi konsumen AS pada Jumat. Dua data ini akan sangat menentukan ekspektasi suku bunga The Fed—dan biasanya jadi pemicu terbesar untuk arah EUR/USD berikutnya. (az)
Sumber: Newsmaker.id