Euro Melemah di Sesi Asia
EUR/USD tetap lemah dan berfluktuasi di sekitar 1,1850 dalam perdagangan Asia pada hari Senin, mempertahankan tekanan jual dari sesi Jumat. Penyebab utamanya adalah penguatan kembali dolar AS, yang menyebabkan euro kehilangan momentum untuk pulih.
Penguatan dolar dipicu oleh nominasi Kevin Warsh sebagai kandidat Ketua Federal Reserve untuk menggantikan Jerome Powell. Warsh dikenal karena preferensinya yang kuat terhadap dolar, sehingga pasar mulai memperhitungkan arah kebijakan yang lebih pro-dolar—dan ini langsung membebani EUR/USD.
Pada saat penulisan, Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di dekat level tertinggi mingguan di 97,33, menunjukkan permintaan yang kuat terhadap dolar AS. Situasi ini mempersulit EUR/USD untuk bergerak lebih tinggi, terutama ketika pasar sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga.
Minggu ini, dolar diperkirakan akan berfluktuasi karena serangkaian data ekonomi AS, termasuk rilis PMI Manufaktur ISM dan, yang paling penting, Nonfarm Payrolls (NFP) pada hari Jumat. Data ketenagakerjaan yang kuat dapat memperpanjang penguatan dolar, sementara data yang lebih lemah dapat memberi ruang bagi euro untuk pulih.
Dari sisi Eropa, fokus utama adalah pada data HICP (inflasi harmonisasi) zona Euro pendahuluan untuk Januari, yang dirilis pada hari Rabu. Konsensus memperkirakan inflasi utama akan turun menjadi 1,7% tahun-ke-tahun dari 1,9% sebelumnya. Jika inflasi mendingin, ekspektasi pasar untuk penurunan suku bunga ECB dapat menguat—dan itu berpotensi memberikan tekanan lebih lanjut pada euro dalam jangka pendek. (asd)
Sumber: Newsmaker.id