Gap Up Gagal: EUR/USD Terbalik ke 1.1850
EUR/USD melemah setelah dibuka dengan gap up pada hari Senin. Pada sesi Asia, pasangan mata uang ini jatuh dan diperdagangkan di sekitar 1.1860, dengan tekanan yang mendorongnya lebih dekat ke area 1.1850.
Pelemahan euro terjadi karena dolar AS menguat akibat meningkatnya permintaan aset safe-haven. Sentimen risk-off meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa ia akan mengenakan tarif 100% pada barang-barang Kanada jika Ottawa mencapai kesepakatan perdagangan dengan China.
Menanggapi hal ini, Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan pada hari Minggu bahwa Kanada tidak berencana untuk mengejar perjanjian perdagangan bebas dengan China. Ia menekankan bahwa pemahamannya dengan Beijing hanya untuk mengurangi tarif di beberapa sektor yang sebelumnya terkena dampak.
Terlepas dari penguatan dolar, pasar juga merasakan masalah yang dapat menahan kenaikan dolar AS: rumor tentang potensi intervensi di pasar valuta asing untuk mendukung yen Jepang (JPY). Para pedagang menyebutkan Bank Federal Reserve New York melakukan "pemeriksaan suku bunga" pada bank-bank besar—sebuah langkah yang sering diinterpretasikan sebagai sinyal persiapan untuk memfasilitasi intervensi.
Dari Eropa, data PMI Zona Euro menunjukkan perlambatan sektor jasa. Indeks jasa turun menjadi 51,9, lebih rendah dari angka Desember dan juga di bawah ekspektasi pasar, menambah beban pada euro.
Para pelaku pasar kini menunggu rilis Indeks Sentimen Bisnis IFO Jerman, yang dijadwalkan rilis hari ini. Data ini berpotensi menentukan arah EUR/USD di masa depan—apakah tekanan terus mencapai 1,1850 atau apakah euro dapat stabil kembali di atas 1,1860. (asd)
Sumber: Newsmaker.id