Gejolak Global Nyalain Safe-Haven, Emas–Perak Ngegas
Harga emas dan perak melesat karena pasar lagi masuk mode “cari aman”. Kombinasi risiko geopolitik, perang dagang, dan ketidakpastian ekonomi bikin investor ramai-ramai pindah ke aset safe-haven seperti logam mulia.
Pemicu yang paling bikin pasar tegang datang dari isu dagang. Trump mengancam akan menerapkan tarif 100% ke Kanada jika Kanada sampai membuat kesepakatan dagang dengan China. Walau Kanada sudah menyangkal akan membuat FTA, headline itu keburu mengangkat kekhawatiran perang dagang melebar.
Di sisi geopolitik, tensi AS–Iran juga naik lagi. Ketika ancaman dan pergerakan aset militer muncul, pasar biasanya langsung memasukkan “premi risiko” dan respons pertama investor sering sama: cari perlindungan di emas dan perak.
Dari sisi global ekonomi, dolar yang melemah ikut mempercepat reli. Saat USD turun, emas dan perak jadi lebih murah bagi pembeli di luar AS, sehingga permintaan internasional naik dan harga makin terdorong.
Faktor kebijakan moneter juga ikut bikin pasar defensif. Rumor soal perubahan arah kebijakan The Fed dan spekulasi suku bunga ke depan membuat investor lebih nyaman memegang aset yang dianggap “netral” dan tidak bergantung pada imbal hasil, seperti emas.
Khusus perak, ada tenaga tambahan dari sisi fisik. Permintaan ritel di Asia menguat, banyak yang berburu batangan 1 kilogram, sementara pasokan fisik disebut sedang ketat. Itu sebabnya perak sering bergerak lebih liar daripada emas saat tren safe-haven sedang kuat.
Ke depan, arah harga akan sangat ditentukan oleh dua hal: apakah isu tarif dan geopolitik makin panas atau justru mereda. Jika eskalasi berlanjut, emas–perak cenderung tetap disokong; kalau tensi turun, harga bisa masuk fase konsolidasi atau profit-taking, tapi perak tetap berpotensi volatil selama pasar fisiknya masih ketat.(asd)
Sumber : Newsmaker.id