Dolar Australia Melemah Usai Data Inflasi China, Pasar Tunggu Isyarat Fed
Dolar Australia (AUD) kembali melemah pada Rabu, mencatat penurunan dua hari berturut-turut terhadap Dolar AS (USD). Pasangan AUD/USD kesulitan bangkit meski revisi data Nonfarm Payrolls AS baru-baru ini meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve bisa mulai memangkas suku bunga secepatnya minggu depan. Penguatan USD tetap menekan mata uang Negeri Kanguru.
Tekanan pada AUD semakin dalam setelah rilis data inflasi konsumen (CPI) China. CPI Agustus turun 0,4% secara tahunan setelah sebelumnya stagnan di 0% pada Juli, lebih buruk dari ekspektasi pasar yang memprediksi penurunan 0,2%. Secara bulanan, inflasi juga lemah di 0% dibandingkan dengan kenaikan 0,4% pada bulan sebelumnya. Data ini menambah kekhawatiran soal lemahnya pemulihan ekonomi China, mitra dagang utama Australia, yang langsung membebani AUD.
Meski begitu, pelemahan AUD diperkirakan terbatas berkat surplus perdagangan Juli yang solid, data PDB kuartal II yang stabil, serta inflasi Juli yang lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi ini membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Reserve Bank of Australia (RBA) di September mengecil, dengan peluang dipertahankannya suku bunga mendekati 84%. Meski demikian, proyeksi ke depan masih cenderung longgar. Matthew Hassan, Kepala Riset Makro Australia di Westpac, memperkirakan RBA tetap akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada November, diikuti dua penurunan lagi pada 2026, seiring lemahnya kepercayaan konsumen domestik.
Saat ini, perhatian pasar bergeser ke data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini. Indeks Harga Produsen (PPI) Agustus dijadwalkan keluar pada Rabu malam waktu AS, diikuti data inflasi konsumen (CPI) pada Kamis, yang diperkirakan memberi sinyal lebih jelas soal arah kebijakan Federal Reserve. (frk)
Sumber: Newsmaker.id