AUD Tetap Tangguh — China Ngebut, Dolar AS Loyo
Dolar Australia (AUD) bertahan kuat di awal pekan setelah data inflasi Australia menguat, sementara dolar AS melemah karena sentimen pasar semakin hati-hati akibat beredarnya isu AS–Greenland. Kombinasi ini membuat pasangan AUD/USD cenderung stabil dan sulit turun dalam.
Penguat dari Australia datang dari TD-MI Inflation Gauge yang naik menjadi 3,5% YoY pada bulan Desember, dari 3,2% sebelumnya. Secara bulanan, inflasi melonjak 1,0% MoM—yang disebut jadi laju tercepat sejak Desember 2023. Data ini membuat pasar berpikir tekanan harga di Australia belum benar-benar “jinak”.
Dari sisi eksternal, AUD juga dibantu oleh kabar dari China. PDB Tiongkok Q4 2025 naik 1,2% QoQ, lebih cepat dari Q3 (1,1%) dan di atas perkiraan pasar (1,0%). Secara tahunan, perekonomian Tiongkok tumbuh 4,5% YoY, memang lebih lambat dari 4,8% di Q3, namun masih sedikit lebih baik dari ekspektasi.
Namun data China tidak semuanya mulus. Penjualan ritel bulan Desember hanya naik 0,9% YoY, di bawah perkiraan 1,2% dan melambat dari 1,3% bulan sebelumnya—ini menandakan konsumsi belum pulih dengan kuat. Sebaliknya, produksi industri justru naik 5,2% YoY, mengalahkan perkiraan 5,0% dan meningkat dari 4,8%. Buat AUD, China penting banget karena Australia sangat bergantung pada perdagangan komoditas dengan China.
Sementara itu dolar AS melemah. Indeks DXY berada di sekitar 99,20, dengan pasar AS juga lebih sepi karena libur Martin Luther King Jr. Day. Sentimen risk-off menguat karena semakin dekatnya isu Greenland, setelah Trump menyebut tarif 10% ke delapan negara Eropa mulai 1 Februari (selama AS belum “diizinkan” membeli Greenland). Ketika pasar tegang, investor cenderung defensif dan dolar bisa tertekan.
Dari sisi kebijakan, data tenaga kerja AS yang kuat membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed mundur, sementara inflasi inti mulai membaik. Di Australia, RBA mengakui inflasi sudah turun jauh dari puncak 2022, namun masih di atas target 2–3% dan ada sinyal tekanan naik lagi. Pasar suku bunga bahkan masih membaca peluang kenaikan kecil, terlihat dari kontrak berjangka yang menandakan probabilitas sekitar 22% untuk kenaikan ke 3,85% pada pertemuan berikutnya.(asd)
Sumber : Newsmaker.id