Crypto Meredup Lagi: BTC Turun, Altcoin Ikut Rontok
Bitcoin melemah pada Kamis (26/2), terseret gelombang penghindaran risiko (risk-off) di Wall Street yang kembali menekan aset spekulatif, termasuk mata uang kripto. Pelemahan ini terjadi setelah sesi kuat pada Rabu, ketika Bitcoin sempat menguat lebih dari 6% didorong aksi beli di harga diskon dan sentimen pasar yang sempat membaik.
Pemulihan tajam tersebut juga dipicu likuidasi massal posisi short yang terlalu padat. Lonjakan harga mendadak memaksa trader short melakukan penutupan paksa (short squeeze), mempercepat kenaikan intraday. Data agregator kripto Coinglass mencatat sekitar $468,7 juta posisi short terlikuidasi dalam 24 jam terakhir—menunjukkan betapa “ramainya” posisi bearish yang terjebak.
Namun pada Kamis, arah berbalik. Bitcoin turun sekitar 2% ke $67.573,6 pada pukul 16:50 ET (21:50 GMT), seiring pasar kembali defensif setelah reli saham teknologi gagal berlanjut. Wall Street melemah ketika laporan kinerja yang kuat dari Nvidia tidak cukup mengangkat sahamnya maupun sentimen sektor teknologi secara luas, memicu kehati-hatian investor terhadap valuasi tinggi dan belanja besar bertema AI.
Kenaikan besar Bitcoin pada Rabu juga dipandang sebagai rebound teknikal dari posisi yang sudah sangat tertekan—Bitcoin masih dilaporkan turun hampir 50% dari rekor tertinggi Oktober. Meski ada pembelian dari pihak korporasi seperti Strategy, pasar menilai hal itu belum cukup menyingkirkan kekhawatiran koreksi lebih dalam. Bahkan setelah rebound minggu ini, indikator psikologi pasar CoinMarketCap Fear & Greed Index tetap bertahan di zona “ketakutan ekstrem” pada Kamis.
Tekanan juga menyebar ke kripto utama lain. Ether turun 3,1% ke $2.033,86, sementara XRP merosot 5,4% ke $1,3964. Solana dan Cardano masing-masing melemah 4,2% dan 7,8%, sedangkan BNB turun 1,8%.
Di segmen meme coin, pelemahan lebih tajam terlihat: Dogecoin jatuh sekitar 8%, sementara token $TRUMP turun 4%. Secara keseluruhan, pergerakan ini menegaskan pasar kripto masih sangat sensitif terhadap perubahan mood di Wall Street—ketika risk-off muncul, aset berisiko biasanya langsung ikut terkoreksi. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id