Saat Kripto Makin Diawasi, Darknet Beralih ke Monero
Pada awal Januari, peretas menguras lebih dari $200 juta dari sebuah dompet kripto lalu menukar sebagian hasilnya ke Monero—koin privasi yang dirancang agar transaksi nyaris mustahil dilacak. Ketika kripto makin mainstream dan aparat makin lihai menyita aset ilegal, “privacy coins” seperti Monero kembali menguat karena menawarkan konsep uang digital terdesentralisasi yang berjalan di luar pengawasan pemerintah. Di sisi lain, sifat inilah yang membuat Monero juga jadi alat favorit pelaku kejahatan yang butuh “uang tunai digital” tanpa jejak.
Menurut laporan terbaru TRM Labs, Monero (kapitalisasi sekitar $6 miliar) kian dominan di darknet, terutama untuk transaksi narkoba, data curian, dan aktivitas ransomware. TRM menyebut ada “pergeseran struktural” ke pasar darknet yang eksklusif menerima Monero, terutama di wilayah yang menghadapi tekanan penegakan hukum ketat—sebagai respons atas kemampuan pelacakan yang makin baik pada Bitcoin dan stablecoin. Bahkan, hampir setengah darknet market yang muncul pada 2025 dilaporkan hanya memakai Monero, sekitar tiga kali lipat dibanding porsi tiga tahun sebelumnya.
Meski beberapa bursa besar pernah delisting Monero sehingga likuiditasnya menipis, perdagangan justru bergeser ke platform terdesentralisasi yang minim “pagar pengaman”. Likuiditas yang rendah ini bahkan bisa memperkuat lonjakan harga ketika ada tekanan beli mendadak—misalnya saat pelaku peretasan menukar aset curian ke Monero. Namun Monero tetap bukan “kebal pelacakan” sepenuhnya: aparat masih bisa memanfaatkan jejak penarikan dari bursa atau data pendukung lain. Intinya, Monero makin menonjol sebagai pedang bermata dua—simbol kebebasan privasi bagi sebagian komunitas kripto, sekaligus tantangan baru bagi upaya global memerangi aliran dana ilegal.(asd)
Sumber: Newsmaker.id