Perak Kalahkan Emas, Tapi Apakah Masih Layak Dikejar?
Harga perak bergerak naik-turun setelah reli tajam yang sempat membawa logam putih ini hanya terpaut sekitar satu dolar dari rekor US$59,33 per ons di sesi sebelumnya. Pada perdagangan terbaru, perak bahkan sempat turun hingga sekitar 1,4% karena para pelaku pasar memilih mengambil untung setelah lonjakan besar. Meski begitu, sentimen di balik pergerakan perak masih terbilang kuat. Arus masuk ke ETF yang didukung perak pekan lalu menjadi yang terbaik sejak Juli, dengan tambahan hampir 590 ton, menandakan banyak investor yang masih percaya bahwa reli ini belum selesai.
Dari sisi teknikal, perak mulai menunjukkan tanda-tanda jenuh beli. Indeks kekuatan relatif (RSI) 14 hari sempat berfluktuasi di sekitar level 70 sepanjang pekan lalu – zona yang biasanya dianggap overbought oleh banyak trader – dan kini berada di kisaran 68,5. Seorang analis investasi, Justin Lin dari Global X Management Co., menilai reli perak saat ini sudah tampak “berbusa” dan menyoroti perilaku investor ritel yang cenderung mengejar momentum. Di sisi fundamental, perak sudah lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun ini, mengungguli kenaikan emas sekitar 60%, dengan dorongan utama dari ekspektasi bahwa Federal Reserve AS akan memangkas suku bunga seperempat poin pada pertemuan terakhir tahun ini, sehingga logam mulia tanpa imbal hasil bunga seperti perak dan emas menjadi lebih menarik.
Di balik itu, pasar perak juga masih merasakan efek “gempa susulan” short squeeze bersejarah. Suku bunga sewa perak di London masih tinggi di sekitar 6%, walaupun pasokan logam mengalir deras ke pusat perdagangan utama tersebut. Kondisi ini menekan pusat-pusat perdagangan lain, dengan stok perak di Shanghai mendekati titik terendah dalam satu dekade. Aktivitas di pasar derivatif pun memanas: opsi pada kontrak berjangka perak Comex mencatat aksi beli besar-besaran, sementara volume kontrak berjangka mikro naik tajam seiring derasnya masuk investor ritel. Di sisi lain, bank sentral Tiongkok terus menambah cadangan emas untuk bulan ke-13 berturut-turut, memberi sinyal bahwa minat terhadap logam mulia secara keseluruhan masih sangat kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global. (az)
Sumber: Newsmaker.id