Perak Diperdagangkan Dekat Rekor Tertingginya
Perak berada di jalur kenaikan mingguan kedua, didukung derasnya aliran dana masuk ke ETF berbasis perak yang kembali memanaskan reli harga.
Logam putih ini sempat naik hingga sekitar 2,6% pada perdagangan Jumat dan bertahan dekat rekor hampir $59 per ons yang tersentuh awal pekan ini. Penambahan kepemilikan ETF perak dalam empat hari terakhir sudah melampaui total peningkatan mingguan mana pun sejak Juli, menunjukkan minat investor yang masih sangat kuat meski sebagian pelaku pasar menilai kenaikan harga sudah berlebihan.
Analis mencatat, arus masuk ke ETF bisa dengan cepat memperbesar pergerakan harga dan memicu short squeeze jangka pendek. Sepanjang pekan ini, indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari untuk perak beberapa kali melampaui batas area jenuh beli, menandakan reli yang sangat agresif. Secara keseluruhan, harga perak sudah hampir dua kali lipat sejak awal tahun, melampaui kenaikan emas yang “hanya” sekitar 60%, dengan laju kenaikan yang semakin cepat dalam dua bulan terakhir.
Selain faktor investasi, pasar juga mulai menyoroti kondisi pasokan fisik yang mengetat. Setelah tekanan pasokan ekstrem di London mulai mereda karena masuknya kiriman logam baru, kini pasar lain justru menghadapi hambatan suplai.
Stok perak di Tiongkok dilaporkan mendekati posisi terendah dalam satu dekade. Analis menilai reli besar perak kali ini bukan lagi sekadar “bayangan emas”, tetapi mencerminkan kombinasi kelangkaan struktural dan lonjakan permintaan industri, termasuk untuk papan sirkuit, panel surya, dan berbagai perangkat medis.
Ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada pertemuan minggu depan juga menjadi penopang penting reli ini. Kontrak swap mengindikasikan keyakinan hampir pasti bahwa biaya pinjaman akan dipotong, biasanya positif bagi logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Taruhan ini tetap bertahan meski data terbaru menunjukkan klaim tunjangan pengangguran di AS turun ke level terendah tiga tahun.
Sejumlah analis, termasuk dari Citigroup, bahkan memperkirakan harga perak bisa naik menuju $62 per ons dalam tiga bulan ke depan, didorong pemangkasan suku bunga, permintaan investasi yang kuat, dan defisit fisik di pasar global.
Menjelang siang di New York, harga perak masih menguat sekitar 2,4% ke $58,50 per ons, naik lebih dari 3,7% sepanjang pekan ini setelah lonjakan 13% minggu lalu.
Emas juga naik, diikuti platinum dan paladium, sementara indeks dolar Bloomberg bergerak sedikit melemah, ikut mendukung reli logam mulia.(yds)
Sumber: Bloomberg.com