Perak Mundur Tipis, Rally Sudah Dekati Puncak?
Harga perak terkoreksi setelah menyentuh rekor tertinggi baru. Pada perdagangan di Asia (Singapura), perak sempat turun hingga 2,4% ke sekitar $57,09 per ons, sebelum bergerak di kisaran $57,43. Meski terkoreksi, harganya masih berada kurang dari $2 dari rekor sebelumnya di $58,97. Koreksi ini terjadi seiring aksi ambil untung (profit taking) dari trader setelah reli tajam beberapa hari terakhir, serta penguatan tipis indeks dolar AS sekitar 0,1% yang membuat logam mulia menjadi sedikit lebih mahal bagi pembeli non-dolar.
Secara tren besar, perak sebenarnya masih dalam fase naik yang sangat kuat. Tahun ini, harga perak sudah hampir dua kali lipat, mengungguli kenaikan emas yang “baru” sekitar 60%. Keduanya berpotensi mencatat kinerja tahunan terbaik sejak 1979. Kenaikan ekstrem ini didorong oleh spekulasi soal ketatnya pasokan dan ekspektasi penurunan suku bunga di AS, yang menjadi angin segar bagi logam mulia yang tidak memberikan bunga. Tekanan suplai makin terasa setelah terjadi “silver squeeze” bersejarah pada Oktober, yang memicu arus masuk perak dalam jumlah besar ke London dan membuat pasar di tempat lain ikut mengetat. Persediaan yang terkait gudang Bursa Berjangka Shanghai bahkan turun ke level terendah dalam satu dekade.
Dari sisi makro, data ekonomi AS yang tertunda justru memperkuat sentimen bullish untuk perak. Laporan ADP menunjukkan perusahaan-perusahaan AS memangkas tenaga kerja pada November dengan jumlah terbesar sejak awal 2023, menambah kekhawatiran pelemahan pasar kerja. Hal ini membuat pelaku pasar hampir yakin The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 9–10 Desember, dengan peluang yang dianggap “nyaris pasti” oleh pasar swap. Suku bunga yang lebih rendah menurunkan biaya peluang memegang logam mulia, sehingga mendukung permintaan untuk perak dan emas sekaligus.
Ada juga faktor kebijakan yang menambah “bumbu” pergerakan harga. Perak baru saja dimasukkan ke daftar mineral kritis oleh US Geological Survey, memicu spekulasi kemungkinan tarif atau “premi Amerika” atas perak. Ekspektasi ini telah mendorong arus besar perak ke gudang Comex dan membuat likuiditas di pasar global terasa lebih sempit sementara pelaku pasar menunggu kejelasan kebijakan tarif AS. Dalam kondisi likuiditas yang menipis ini, arus masuk ke opsi ETF perak—banyak dipimpin investor ritel—memberi efek yang sangat besar ke harga. Volume opsi call dan put di ETF perak populer bahkan naik ke level yang terakhir kali terlihat saat “squeeze” Oktober, menciptakan struktur pasar yang rawan “blow-off top” atau puncak euforia sesaat.
Untuk tahun depan, pasar perak berpotensi tetap sangat volatil. Di satu sisi, jika The Fed benar-benar masuk fase penurunan suku bunga dan ekonomi tidak jatuh ke resesi dalam, kombinasi suku bunga lebih rendah, narasi “logam kritis”, dan pasokan yang ketat bisa membuat perak tetap menarik dan menahan harga di level tinggi, meski mungkin tidak seagresif kenaikan tahun ini. Di sisi lain, jika ekonomi AS mendarat terlalu keras, permintaan industri bisa melemah dan membatasi upside. Dengan posisi harga yang sudah melonjak tajam dan aktivitas spekulatif di ETF yang besar, risiko koreksi tajam tetap terbuka, terutama jika ekspektasi rate cut berbalik atau kebijakan tarif AS tidak seketat yang dibayangkan pasar saat ini. Singkatnya: tren jangka panjang perak masih konstruktif, tapi fase “naik lurus” seperti tahun ini sulit diulang tanpa gejolak besar di sepanjang jalan.(asd)
Sumber: Newsmaker.id