Harga Minyak Turun, Apakah Oversupply Jadi Ancaman?
Harga minyak mengalami penurunan pada hari Selasa, 4 November 2025, setelah keputusan OPEC+ untuk menunda peningkatan produksi pada kuartal pertama 2026. Brent crude futures turun 15 sen, atau 0,2%, menjadi $64,74 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga turun 14 sen, atau 0,2%, menjadi $60,91 per barel. Keputusan OPEC+ untuk meningkatkan produksi hanya sedikit pada bulan Desember dan menahan kenaikan lebih lanjut di kuartal pertama tahun depan, memicu kekhawatiran tentang potensi kelebihan pasokan di pasar.
OPEC+ telah meningkatkan target produksinya sekitar 2,9 juta barel per hari sejak April, yang setara dengan 2,7% dari pasokan global, namun mereka melambatkan laju kenaikan sejak Oktober, dengan prediksi pasar akan mengalami oversupply. Analis melihat keputusan ini sebagai pengakuan pertama dari OPEC+ bahwa pasar bisa mengalami kelebihan pasokan, meskipun mereka sebelumnya sangat optimistis terhadap tren permintaan dan kemampuan pasar untuk menyerap tambahan pasokan minyak.
Namun, beberapa kepala produsen energi terbesar Eropa menentang prediksi kelebihan pasokan pada 2026, dengan mengutip permintaan yang terus meningkat dan produksi yang lebih rendah. Di sisi lain, Wakil Menteri Energi AS, James Danly, mengatakan bahwa ia tidak memperkirakan akan terjadi kelebihan pasokan minyak pada tahun 2026. Hal ini menunjukkan adanya pandangan yang berbeda terkait proyeksi pasar minyak global.
Pasar kini menunggu data inventaris minyak AS dari American Petroleum Institute (API), yang akan dirilis kemudian hari, untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai kondisi pasokan. Survei awal Reuters memperkirakan stok minyak mentah AS meningkat minggu lalu, yang bisa memberikan arah tambahan bagi pergerakan harga minyak ke depan.(asd)
Sumber: Newsmaker.id