Minyak Pangkas Kenaikan Ditengah Tensi Di Selat Hormuz
Harga minyak memangkas sebagian kenaikan pada Senin (4/5) setelah militer AS menyatakan dua kapal perusak berpeluru kendali Angkatan Laut AS telah memasuki Teluk untuk menerobos blokade Iran, dan dua kapal AS telah melintasi Selat Hormuz. Pernyataan itu muncul setelah Iran sebelumnya mengklaim telah mencegah kapal perang AS memasuki Teluk.
Minyak Brent naik 1,9% ke US$110,22 per barel pada 13.07 GMT setelah sempat menyentuh US$114,30. WTI menguat 0,5% ke US$102,41 per barel, setelah sempat naik hingga US$107,46 pada awal sesi.
Harga sempat melonjak setelah kantor berita Iran, Fars, melaporkan Teheran menyerang kapal perang AS yang berniat melintasi selat dan memaksanya berbalik arah. Namun, U.S. Central Command membantah ada kapal Angkatan Laut AS yang terkena serangan pada Senin, sehingga reli harga mereda meski volatilitas tetap tinggi.
UBS menilai bias harga masih condong ke atas selama arus minyak melalui Selat Hormuz tetap terbatas. Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington akan memulai upaya membantu kapal-kapal yang terjebak di selat, namun pasar melihat belum ada kesepakatan damai yang jelas dan pelayaran di jalur strategis itu masih terkendala, sehingga premi risiko tetap melekat pada harga.
Ketegangan di lapangan berlanjut. Militer Iran memperingatkan pasukan AS agar tidak memasuki selat dan menyatakan akan merespons “keras” atas setiap ancaman. Di saat yang sama, Uni Emirat Arab menuduh Iran menyerang sebuah kapal tanker minyak kosong milik perusahaan minyak negara Abu Dhabi (ADNOC) dengan drone saat kapal itu mencoba melintas di selat, menambah risiko eskalasi dan memperkuat fokus pasar pada keamanan jalur energi.(yds)
Sumber: Newsmaker.id