Geopolitik Memanas, Tapi Oversupply Bisa Ngerem Minyak
Harga minyak hari ini masih bertahan di zona hijau tipis, dengan Brent sekitar $63,00/barel dan WTI sekitar $58,75/barel di sesi Eropa hari Senin (12/1). Kenaikan kecil ini masih ditopang premi risiko geopolitik, terutama dari Iran.
Namun di balik volatilitas headline geopolitik, analis Goldman Sachs menilai arah besar 2026 masih berat: pasokan berlebih diperkirakan menahan reli minyak agar tidak berkelanjutan dan menjaga harga berjangka cenderung rendah tahun ini.
Goldman memperkirakan surplus pasokan global bisa mendorong minyak turun hingga titik terendah pada kuartal IV 2026, dengan proyeksi Brent ke $54/barel dan WTI ke $50/barel. Fokus mereka: penumpukan stok (inventori) yang makin terasa dampaknya ke harga.
Bank itu juga menyoroti faktor kebijakan: preferensi pembuat kebijakan AS untuk pasokan energi yang kuat dinilai bisa membatasi potensi kenaikan harga yang “awet”, apalagi menjelang dinamika politik seperti pemilu paruh waktu. Artinya, setiap lonjakan karena geopolitik berisiko cepat “diredam” oleh narasi pasokan.
Untuk 2027, Goldman melihat peluang pemulihan moderat seiring pertumbuhan pasokan non-OPEC melambat dan permintaan masih solid. Proyeksinya, rata-rata harga Brent $58 dan WTI $54 pada 2027.
Kesimpulannya: dalam jangka pendek, geopolitik bisa bikin minyak “melonjak”, tapi untuk tren tahun ini pasar masih dibayangi tema besar oversupply. Jadi, tanpa gangguan pasokan yang benar-benar nyata, ruang reli kemungkinan terbatas dan pasar cenderung kembali ke range. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id