Minyak Turun Lagi, Deal Venezuela Bikin Panas
Harga minyak kembali melemah pada Rabu setelah pasar mencerna pernyataan Presiden AS Donald Trump soal kesepakatan impor minyak mentah Venezuela ke Amerika Serikat. Sentimen utamanya: pasokan berpotensi bertambah ke konsumen minyak terbesar dunia, di saat pasar sudah sensitif dengan isu kelebihan suplai.
Pada perdagangan terbaru, Brent turun sekitar 1% ke $60,09 per barel, sementara WTI melemah 1,37% ke $56,35 per barel. Penurunan ini memperpanjang pelemahan dari sesi sebelumnya, ketika pasar makin condong pada narasi “supply longgar” untuk awal 2026.
Trump menyebut Venezuela akan “menyerahkan” sekitar 30–50 juta barel minyak yang dikenai sanksi untuk dikirim ke AS dan dijual di harga pasar. Kesepakatan ini dinilai bisa mengalihkan sebagian kargo yang sebelumnya menuju China, sehingga aliran minyak Venezuela berpotensi makin terkonsentrasi ke pasar AS.
Masalahnya, pasar minyak sekarang bukan kekurangan pasokan—justru sebaliknya. Sejumlah analis melihat potensi surplus global semakin nyata di awal 2026, sehingga berita yang mengarah ke tambahan pasokan (atau berkurangnya hambatan distribusi) cenderung langsung menekan harga.
Dari sisi data, laporan API juga memberi sinyal campuran: stok minyak mentah AS turun sekitar 2,77 juta barel, tetapi stok bahan bakar meningkat—membuat pasar tetap hati-hati soal kekuatan permintaan. Investor kini menunggu data resmi persediaan dari pemerintah AS untuk konfirmasi arah berikutnya. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id