Harga Minyak Tertekan, AS Mengambil Alih Minyak Venezuela
Harga minyak terus melemah menyusul pernyataan Donald Trump bahwa Venezuela akan menyerahkan puluhan juta barel minyak mentah kepada Amerika Serikat. Minyak Brent jatuh hingga mendekati US$60 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$56, memperpanjang penurunannya sejak awal tahun.
Trump menyatakan bahwa hingga 50 juta barel minyak berkualitas tinggi dari Venezuela akan diserahkan kepada AS untuk dijual, dengan hasil penjualan dilaporkan menguntungkan kedua negara. Langkah ini dilihat sebagai upaya Washington untuk memperkuat kendali atas industri minyak Venezuela sekaligus mengurangi risiko gangguan pasokan karena keterbatasan penyimpanan di negara tersebut.
Tekanan tambahan datang dari laporan bahwa pemerintahan Trump meminta Venezuela untuk bermitra secara eksklusif dengan AS untuk penjualan minyak dan mengurangi hubungan dengan China, Rusia, Iran, dan Kuba. Jika terwujud, kebijakan ini akan mewakili pergeseran politik besar bagi Venezuela, yang secara historis dekat dengan negara-negara tersebut.
Pada dasarnya, pasar minyak tetap dibayangi oleh sentimen bearish. Kekhawatiran tentang kelebihan pasokan global tetap kuat, diperparah oleh ketidakpastian setelah jatuhnya Nicolás Maduro. Analis ING percaya bahwa langkah AS sebenarnya mengurangi risiko gangguan pasokan, yang selanjutnya menekan harga.
Dari segi data, laporan American Petroleum Institute menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah AS sebesar 2,8 juta barel, tetapi persediaan bensin dan distilat justru meningkat lebih dari 4 juta barel. Pasar sekarang menunggu data resmi pemerintah AS dan perkembangan geopolitik lebih lanjut, termasuk potensi perjanjian keamanan untuk Ukraina yang dapat membuka jalan bagi ekspor minyak Rusia dan meningkatkan tekanan pada pasar energi global. (asd)
Sumber: Newsmaker.id