Minyak Turun Awal 2026, Dibayangi Surplus
Harga minyak melemah pada hari perdagangan pertama 2026 karena kekhawatiran pasokan berlebih dipandang lebih dominan dibanding risiko geopolitik di beberapa negara produsen OPEC+. Pasar menilai suplai yang “membengkak” bisa menekan harga, meski tensi politik dan konflik masih tinggi.
Kontrak Brent diperdagangkan di bawah US$61/barel, sementara WTI berada sedikit di atas US$57/barel, setelah keduanya sempat mencatat kenaikan tipis di awal sesi namun kemudian berbalik turun. Tekanan jual juga terlihat di pasar Timur Tengah—termasuk turunan seperti patokan Dubai—dengan penjualan besar pada jam perdagangan Asia.
Pelaku pasar kini fokus ke rapat OPEC+ pada 4 Januari. Kelompok produsen kunci yang dipimpin Arab Saudi diperkirakan akan menegaskan kembali keputusan untuk menahan kenaikan pasokan selama kuartal pertama, mengingat konsumsi sedang memasuki periode musiman yang cenderung lebih lemah.
Tekanan harga juga merupakan “warisan” 2025: Brent ditutup dengan penurunan tahunan sekitar 18%, terburuk sejak 2020. Penurunan itu terjadi ketika OPEC+ dan produsen pesaing—dari AS hingga Guyana—meningkatkan output, sementara pertumbuhan permintaan melambat.
Prospek surplus membuat pasar makin berhati-hati. International Energy Agency (IEA) memperkirakan kelebihan pasokan sekitar 3,8 juta barel per hari untuk tahun ini, sebuah angka yang cukup besar untuk menahan reli harga walau ada gangguan geopolitik sesekali.
Di sisi geopolitik, ketegangan tetap menjadi faktor penopang jangka pendek. Trump memberi pernyataan keras terkait demonstrasi di Iran, sementara pemerintah AS juga meningkatkan tekanan pada ekspor minyak Venezuela melalui sanksi terhadap perusahaan di Hong Kong dan China daratan serta kapal-kapal yang dituduh mengakali pembatasan.
Situasi Venezuela ikut memanas setelah laporan soal pengejaran kapal tanker Bella 1 di Atlantik, ditambah langkah AS yang disebut menerapkan “blokade parsial” terhadap kapal minyak yang bersandar di Venezuela dan serangan ke fasilitas yang diklaim terkait narkoba. Sementara itu, Rusia–Ukraina saling menyerang pelabuhan Laut Hitam dan infrastruktur termasuk kilang, bahkan berdampak ke aliran energi dari Kazakhstan (sekutu OPEC+).
Kesimpulannya: geopolitik bisa mengangkat harga dalam jangka pendek, tapi selama narasi oversupply masih kuat, pasar cenderung melihat risiko penurunan harga berlanjut di kuartal pertama 2026.(yds)
Sumber: Bloomberg.com