Minyak Naik Lagi, Tapi Pasar Masih “Deg-degan
Harga minyak menguat untuk hari kedua karena pasar kembali memasang “premi risiko” dari ketegangan geopolitik di Venezuela dan potensi tekanan baru ke Rusia. Brent sempat mendekati $61 sebelum bergerak naik-turun, sementara WTI bertahan di atas $56. Intinya, isu politik dan risiko gangguan pasokan sedang menutup sementara kekhawatiran soal surplus global.
Pemicu utama datang dari langkah AS yang menerapkan blokade terhadap kapal tanker Venezuela yang terkena sanksi. Trump menuduh Venezuela “mengambil hak energi” AS, dan sebelumnya juga ada penyitaan kapal di lepas pantai Venezuela. Kombinasi ini bikin pelaku pasar khawatir aliran minyak dari Venezuela bisa tersendat atau pengiriman jadi lebih sulit.
Di saat yang sama, AS juga disebut menyiapkan paket sanksi baru untuk sektor energi Rusia jika Putin menolak perjanjian damai Ukraina. Opsi yang dibahas termasuk menekan “shadow fleet” tanker dan pihak-pihak yang memfasilitasi ekspor Rusia. Walau belum jadi keputusan final, rumor dan persiapan seperti ini sudah cukup untuk membuat pasar lebih “waspada”.
Namun, dari sisi fundamental, pasar minyak masih belum benar-benar bullish. Kekhawatiran utama tetap: pasokan global diprediksi melampaui permintaan. Bahkan WTI sempat menyentuh level terendah sejak 2021 awal pekan ini, dan beberapa indikator pasar dari Timur Tengah hingga AS menunjukkan tanda permintaan yang tidak sekuat dulu.
Likuiditas juga mulai menipis jelang libur Natal, sehingga pergerakan harga bisa lebih “meledak” karena order yang lebih sedikit dapat menggerakkan harga lebih besar. Ini membuat sesi-sesi ke depan rawan volatil: sedikit headline saja bisa mendorong lonjakan atau koreksi cepat.
Prediksi ke depan: dalam jangka pendek, harga minyak cenderung sensitif ke headline—kalau tensi Venezuela/Rusia makin panas, minyak bisa lanjut rebound dan Brent berpeluang bertahan di atas $60. Tapi kalau situasi mereda, pasar kemungkinan balik fokus ke surplus pasokan, sehingga kenaikan bisa cepat “kehabisan tenaga” dan harga rawan turun lagi. Secara umum, selama data permintaan global belum membaik, reli minyak masih lebih mudah dianggap rebound sementara, bukan tren naik panjang.(asd)
Sumber: Newsmaker.id