Minyak Sedkit Mundur Saat Fokus Ke Pembicaraan Ukraina
Harga minyak melemah pada hari Kamis (11/12) karena investor kembali memusatkan perhatian pada pembicaraan damai Rusia–Ukraina dan memantau potensi dampak dari aksi Amerika Serikat yang menyita sebuah kapal tanker minyak yang dikenai sanksi di lepas pantai Venezuela.
Kontrak berjangka Brent turun 69 sen, atau 1,1%, menjadi $61,52 per barel pada pukul 13.02 GMT, sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) turun 67 sen, atau 1,2%, ke $57,79 per barel.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan pada hari Kamis bahwa kunjungan utusan AS Steve Witkoff ke Moskow bulan ini telah menyelesaikan sejumlah kesalahpahaman antara kedua negara. Ia menambahkan bahwa Moskow telah menyerahkan proposal Rusia mengenai jaminan keamanan kolektif kepada Washington.
Sehari sebelumnya, kedua benchmark tersebut ditutup menguat setelah AS mengatakan telah menyita sebuah kapal tanker minyak di lepas pantai Venezuela, ketika meningkatnya ketegangan antara kedua negara memicu kekhawatiran gangguan pasokan.
“Sejauh ini, penyitaan tersebut belum benar-benar mengalir ke pasar, tetapi eskalasi lebih lanjut akan memicu volatilitas harga minyak mentah yang tajam,” kata Emril Jamil, analis senior minyak di LSEG.
“Pasar masih berada dalam kondisi menggantung, dengan fokus pada perkembangan kesepakatan damai Rusia–Ukraina.”
Pada hari Rabu, Presiden AS Donald Trump mengatakan, “Kami baru saja menyita sebuah kapal tanker di lepas pantai Venezuela, kapal yang besar, sangat besar, bahkan yang terbesar, sebenarnya, dan hal-hal lain juga sedang terjadi.”
Pejabat pemerintahan Trump tidak menyebut nama kapal tersebut. Grup manajemen risiko maritim asal Inggris, Vanguard, mengatakan kapal tanker tersebut, Skipper, diyakini telah disita di lepas pantai Venezuela.
Para trader dan sumber industri mengatakan pembeli Asia menuntut diskon besar untuk minyak mentah Venezuela, tertekan oleh membanjirnya pasokan minyak yang dikenai sanksi dari Rusia dan Iran serta meningkatnya risiko pemuatan di negara Amerika Selatan tersebut, seiring AS meningkatkan kehadiran militernya di Karibia.
Investor lebih berfokus pada perkembangan pembicaraan damai Rusia–Ukraina. Para pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman menggelar panggilan telepon dengan Trump untuk membahas upaya terbaru Washington dalam proses perdamaian guna mengakhiri perang di Ukraina, yang mereka sebut sebagai “momen krusial” dalam proses tersebut.(yds)
Sumber: Reuters.com