Minyak Stabil Jelang Perundingan Ukraina dan Cut Rate Fed
Harga minyak bergerak stabil pada hari Rabu (10/12) setelah turun sekitar 1% di sesi sebelumnya, seiring investor memantau perkembangan pembicaraan damai Rusia-Ukraina dan menunggu keputusan suku bunga AS.
Minyak Brent naik 2 sen menjadi $61,96 per barel pada pukul 14.00 GMT, sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 3 sen ke $58,28.
Sumber pasar yang mengutip data API pada hari Selasa mengatakan bahwa persediaan minyak mentah AS turun 4,78 juta barel pada pekan lalu, sementara stok bensin naik 7 juta barel dan persediaan distilat meningkat 1,03 juta barel. Data resmi pemerintah akan dirilis pada pukul 15.30 GMT.
Sementara itu, pasar memperkirakan Federal Reserve AS akan memangkas suku bunga acuannya sebesar seperempat poin pada hari Rabu untuk mendukung pasar tenaga kerja yang mulai mendingin. Keputusan The Fed dijadwalkan keluar pada pukul 14.00 waktu setempat (19.00 GMT).
Suku bunga yang lebih rendah berpotensi mendorong permintaan minyak dengan memperkuat pertumbuhan ekonomi, namun kenaikan harga tertahan oleh kekhawatiran bahwa pasokan bisa melampaui permintaan. Pasar minyak saat ini bergerak semakin dalam menuju potensi surplus (glut), namun pasokan Rusia tetap menjadi faktor risiko, kata analis ING dalam sebuah catatan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan bahwa negaranya dan mitra-mitra Eropa akan segera menyampaikan “dokumen yang telah disempurnakan” kepada AS terkait rencana perdamaian untuk mengakhiri perang dengan Rusia.
Sebuah kesepakatan damai antara Ukraina dan Rusia berpotensi mendorong pencabutan sanksi internasional terhadap perusahaan-perusahaan Rusia, yang dapat membuka kembali pasokan minyak yang selama ini dibatasi.
Sementara itu, Badan Informasi Energi (Energy Information Administration/EIA) mengatakan pihaknya memperkirakan produksi minyak AS tahun ini akan naik lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya, dengan menaikkan perkiraan produksi 2025 sebesar 20.000 barel menjadi rata-rata rekor 13,61 juta barel per hari.
Namun, lembaga tersebut menurunkan proyeksi produksi 2026 sebesar 50.000 barel menjadi 13,53 juta barel per hari.(yds)
Sumber: Reuters