Minyak Stabil Jelang Negosiasi Damai Ukraina–Rusia dan The Fed
Harga minyak bergerak stabil pada Rabu (10/12), karena pelaku pasar menunggu perkembangan pembicaraan damai antara Rusia dan Ukraina serta keputusan suku bunga bank sentral AS, The Fed. Setelah turun sekitar 1% di sesi sebelumnya, Brent menguat tipis 0,1% ke sekitar $62,01 per barel, sementara WTI AS naik 0,2% ke kisaran $58,35 per barel.
Data awal dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah AS turun sekitar 4,78 juta barel pekan lalu. Namun, stok bensin melonjak 7 juta barel dan distillate (seperti solar dan diesel) naik 1,03 juta barel. Angka resmi dari pemerintah AS masih ditunggu pada 15.30 GMT, dan bisa jadi pemicu pergerakan berikutnya di harga minyak.
Pasar juga mengantisipasi The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin untuk mendukung pasar tenaga kerja yang mulai mendingin. Suku bunga yang lebih rendah secara teori bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi, termasuk minyak. Namun, potensi kenaikan permintaan ini tertahan kekhawatiran bahwa pasokan global justru bisa melampaui kebutuhan, apalagi analis ING menilai pasar minyak sudah bergerak makin dalam ke fase kelebihan pasokan (glut), meski risiko dari sisi suplai Rusia masih membayangi.
Di sisi geopolitik, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan bahwa Ukraina dan mitra Eropa segera menyerahkan “dokumen yang sudah diperhalus” kepada AS terkait rencana perdamaian dengan Rusia. Jika tercapai kesepakatan damai, sebagian sanksi internasional terhadap perusahaan Rusia berpotensi dicabut, yang bisa membuka kembali aliran suplai minyak Rusia ke pasar global.
Bersamaan dengan itu, EIA memperkirakan produksi minyak AS tahun ini akan mencetak rekor baru, dengan proyeksi 2025 dinaikkan menjadi rata-rata 13,61 juta barel per hari, sementara proyeksi 2026 sedikit dipangkas ke 13,53 juta barel per hari.
Sumber: Reuters.com