Pasokan Melimpah, Damai Ukraina Dibahas, Minyak Pelan-pelan Tertekan
Harga minyak sedikit melemah pada hari Selasa (9/12) setelah turun 2% pada sesi sebelumnya, dengan investor mencermati perundingan damai untuk mengakhiri perang Rusia di Ukraina, kekhawatiran mengenai pasokan yang melimpah, dan keputusan suku bunga AS yang akan datang.
Harga minyak mentah Brent berjangka ditutup turun 55 sen, atau 0,88%, menjadi $61,94 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 63 sen, atau 1,07%, menjadi $58,25 per barel.
Kedua kontrak tersebut turun lebih dari $1 per barel pada hari Senin setelah Irak memulihkan produksi di ladang minyak West Qurna 2 milik Lukoil, salah satu yang terbesar di dunia.
Ukraina akan berbagi rencana perdamaian yang telah direvisi dengan AS setelah perundingan di London antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dan para pemimpin Prancis, Jerman, dan Inggris. Perdamaian antara Ukraina dan Rusia dapat berujung pada pencabutan sanksi internasional terhadap perusahaan-perusahaan Rusia dan membebaskan pasokan minyak yang dibatasi.
Pada hari Selasa, listrik padam bagi sekitar separuh penduduk di ibu kota Ukraina, Kyiv, setelah serangan terbaru Rusia terhadap sistem energi negara itu.
Bertujuan untuk memangkas pendapatan minyak Moskow, negara-negara Kelompok Tujuh (G7) dan Uni Eropa sedang dalam pembicaraan untuk mengganti batas harga ekspor minyak Rusia dengan larangan penuh layanan maritim, ujar sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Kargo minyak di laut, yang telah meningkat sebesar 2,5 juta barel setiap hari sejak pertengahan Agustus dan masih terus meningkat, terus menekan harga minyak, kata kepala analis komoditas SEB, Bjarne Schieldrop.
"Satu-satunya alasan mengapa harga minyak mentah Brent tidak turun lebih cepat dan lebih dalam adalah karena sanksi AS terkait Rosneft dan Lukoil," ujarnya. (Arl)
Sumber: Reuters.com