Minyak Tampak Tenang, Tapi Risikonya Makin Besar?
Harga minyak bergerak relatif stabil di sesi Asia hari Jumat(5/12), setelah sempat naik hampir 1% pada perdagangan Kamis. Kontrak Brent Februari turun tipis 0,2% ke sekitar $63,15 per barel, sementara WTI melemah 0,3% ke sekitar $59,30 per barel. Meski terkoreksi sedikit, WTI masih berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 1,5%, menandakan sentimen pasar masih cukup terjaga.
Salah satu penopang harga datang dari perundingan damai Ukraina yang tersendat. Pertemuan antara AS dan Rusia awal pekan ini gagal menghasilkan terobosan menuju gencatan senjata, sehingga harapan pelonggaran sanksi energi terhadap Rusia mereda. Kondisi ini menjaga kekhawatiran soal gangguan pasokan minyak, apalagi setelah adanya serangan Ukraina ke infrastruktur energi Rusia, sehingga pasar tetap memasang premi risiko pada harga.
Dari sisi makro, minyak juga mendapat dukungan dari ekspektasi kuat bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga 25 bps minggu depan. Data tenaga kerja AS memberi sinyal campuran: klaim pengangguran turun tajam ke 191.000, tapi laporan penggajian swasta menunjukkan pemangkasan 32.000 pekerjaan pada November. Pasar kini fokus ke rilis data inflasi PCE AS, indikator favorit The Fed. Jika inflasi terlihat melemah, peluang pelonggaran kebijakan makin besar — dan itu biasanya positif bagi aset berisiko, termasuk minyak. (az)
Sumber: Newsmaker.id