Fokus Surplus Pasokan dan Sanksi Rusia, Minyak Gak Banyak Berubah
Harga minyak bergerak stabil ketika investor menimbang dampak potensi surplus pasokan dengan sanksi AS terhadap Rusia yang telah mengganggu sebagian arus perdagangan minyak mentah.
Minyak Brent diperdagangkan mendekati $64 per barel setelah ditutup sedikit lebih rendah pada sesi sebelumnya.
Harga minyak acuan utama Rusia anjlok ke level terendah dalam lebih dari dua tahun, hanya beberapa hari sebelum sanksi AS terhadap raksasa produsen Rosneft PJSC dan Lukoil PJSC mulai berlaku, sementara sejumlah pembeli besar di Asia menghentikan setidaknya sebagian pembelian mereka.
Kontrak berjangka acuan melemah sepanjang tahun ini karena ekspektasi kelebihan pasokan membebani prospek harga, dengan Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan surplus rekor pada 2026. Kelebihan pasokan ini didorong oleh kembalinya produksi yang sebelumnya dihentikan dari OPEC dan sekutunya, serta peningkatan produksi dari negara-negara di luar kelompok tersebut.
“Terlepas dari sentimen yang lemah di pasar keuangan, pasar minyak masih mendapat dukungan dari ketidakpastian geopolitik dan sanksi,” ujar Arne Lohmann Rasmussen, kepala analis di A/S Global Risk Management.
Pada hari Senin, Presiden AS Donald Trump mengatakan ia tidak menutup kemungkinan mengirim pasukan ke Venezuela, namun di saat yang sama menyatakan bersedia berbicara dengan pemimpin negara tersebut, Nicolas Maduro. AS dalam beberapa pekan terakhir telah menambah kehadiran militer di dekat negara produsen anggota OPEC tersebut.
Harga:
Minyak Brent untuk pengiriman Januari turun 0,4% menjadi $63,96 per barel pada pukul 9:55 pagi waktu London.
Minyak WTI untuk pengiriman Desember melemah 0,4% ke $59,69 per barel.(yds)
Sumber: Bloomberg.com