Minyak Dunia Ketar-Ketir!
Harga minyak dunia turun tipis karena pasar dibayangi dua hal yang saling bertolak belakang: ancaman surplus pasokan dan sanksi baru AS terhadap Rusia. Brent diperdagangkan di bawah USD 64 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada dekat USD 59 per barel. Harga minyak utama Rusia jatuh ke level terendah dalam lebih dari dua tahun, hanya beberapa hari sebelum sanksi AS terhadap raksasa energi Rosneft PJSC dan Lukoil PJSC mulai berlaku dan mengacaukan sebagian aliran ekspor mereka.
Secara tren, kontrak berjangka minyak tahun ini cenderung melemah karena pasar sudah mengantisipasi kelebihan pasokan. International Energy Agency (IEA) memproyeksikan surplus rekor pada 2026, didorong oleh kembalinya produksi yang sempat dihentikan oleh OPEC+ serta kenaikan pasokan dari negara-negara di luar kartel. Analis energi Saul Kavonic dari MST Marquee mengatakan pasar saat ini sedang menimbang outlook neraca yang bearish dengan risiko gangguan suplai geopolitik dari Rusia dan kawasan lainnya. Jika penegakan sanksi longgar, konflik tidak memanas, dan OPEC tetap pada jalur sekarang, ia menilai harga minyak berpotensi melemah lebih jauh.
Dari sisi pasokan lain, produksi minyak pasir Kanada terus menanjak seiring selesainya ekspansi pipa Trans Mountain yang membuka jalur lebih besar ke pasar Asia setelah bertahun-tahun terkendala kapasitas. Produksi mencapai rekor tertinggi pada Juni dan diperkirakan bisa naik hingga sekitar 6 juta barel per hari pada 2030, menurut Bank of Montreal. Pada perdagangan siang di Singapura, Brent kontrak Januari tercatat turun sekitar 0,7% ke USD 63,76 per barel, sementara WTI kontrak Desember melemah 0,7% ke USD 59,50 per barel. Struktur waktu WTI masih tipis dalam posisi backwardation, setelah pekan lalu sempat berbalik ke pola contango yang biasanya mencerminkan sinyal pasar kelebihan pasokan.
Meski tekanan dari sisi surplus cukup kuat, beberapa risiko geopolitik berpotensi menahan penurunan harga agar tidak terlalu dalam. Di Afrika, serangan di Sudan mengganggu ekspor, sementara Iran menyita sebuah tanker minyak dekat jalur penting Selat Hormuz, salah satu rute tersibuk minyak dunia. Pasar juga memantau tekanan AS terhadap Venezuela, termasuk rencana menetapkan kartel narkoba yang diduga dipimpin Presiden Nicolas Maduro sebagai organisasi teroris asing dan wacana Presiden Donald Trump untuk memperluas serangan militer ke Kolombia dan bahkan Meksiko. Secara terpisah, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dijadwalkan bertemu Trump di Washington untuk memperdalam kerja sama, termasuk rencana penjualan jet tempur F-35, menegaskan posisi Saudi sebagai “great ally” AS di kawasan energi strategis Timur Tengah.(Asd)
Sumber: Newsmaker.id