Minyak Stabil Pasca Penurunan Tajam di Sesi Sebelumnya
Harga minyak relatif stabil pada hari Kamis (13/11)) setelah mengalami penurunan sekitar 4% pada sesi sebelumnya, karena investor mempertimbangkan kekhawatiran tentang kelebihan pasokan global seiring dengan sanksi yang akan diberlakukan terhadap perusahaan minyak Rusia, Lukoil.
Kontrak berjangka Brent naik 30 sen, atau 0,5%, menjadi $63,01 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat 20 sen, atau 0,3%, menjadi $58,69 per barel, setelah penurunan 4,2% pada hari Rabu.
"Diperkirakan akan ada dukungan yang cukup besar bagi harga minyak sekitar $60 per barel, terutama mengingat adanya kemungkinan gangguan sementara pada aliran ekspor Rusia begitu sanksi yang lebih ketat diberlakukan," kata Suvro Sarkar, kepala tim sektor energi DBS Bank.
Pemerintah AS telah menjatuhkan sanksi terhadap Lukoil sebagai bagian dari upaya untuk mendorong Rusia berdamai terkait konflik di Ukraina. Sanksi ini melarang transaksi dengan perusahaan Rusia tersebut mulai 21 November.
Namun, kenaikan harga dibatasi oleh laporan dari Administrasi Informasi Energi AS (EIA) yang menunjukkan peningkatan persediaan minyak mentah AS yang lebih besar dari yang diperkirakan, sementara persediaan bensin dan distilat turun lebih sedikit dari yang diperkirakan minggu lalu.
Persediaan minyak mentah AS meningkat sebesar 6,4 juta barel menjadi 427,6 juta barel dalam pekan yang berakhir pada 7 November, menurut EIA, dibandingkan dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memprediksi kenaikan 1,96 juta barel.
Penurunan harga juga dipengaruhi oleh pernyataan OPEC yang mengungkapkan bahwa pasokan minyak global diperkirakan akan sedikit melebihi permintaan pada tahun 2026, sebuah perubahan dari proyeksi sebelumnya yang menunjukkan kekurangan pasokan.
OPEC mengatakan bahwa surplus pasokan diperkirakan akan terjadi pada tahun depan karena peningkatan produksi yang lebih besar oleh OPEC+, kelompok negara produsen yang mencakup anggota OPEC dan sekutunya seperti Rusia.
Badak Energi Internasional (IEA) juga menaikkan proyeksi pertumbuhan pasokan minyak global untuk tahun ini dan tahun depan dalam laporan pasar minyak bulanannya pada hari Kamis, yang mengindikasikan surplus yang lebih besar pada tahun 2026.
Sumber: Reuters.com