Minyak Naik, Bayang Oversupply Belum Padam
Harga minyak naik sekitar $1 pada hari Selasa (11/11) akibat dampak sanksi terbaru AS terhadap minyak Rusia dan optimisme akan berakhirnya shutdown pemerintahan AS, meski kekhawatiran kelebihan pasokan membatasi kenaikan.
Kontrak berjangka Brent ditutup naik $1,10, atau 1,72%, ke $65,16 per barel. West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 91 sen, atau 1,51%, menjadi $61,04 per barel.
Investor terus menilai dampak sanksi AS terhadap Rusia dan pengaruhnya pada pasar minyak mentah serta bahan bakar olahan.
Lukoil Rusia menyatakan force majeure di salah satu ladang minyak Irak yang mereka operasikan, kata sumber kepada Reuters pada Senin, menandai dampak terbesar sejauh ini dari sanksi yang diberlakukan bulan lalu.
Pembatasan ekspor bahan bakar akibat sanksi tersebut menopang harga minyak meskipun terjadi kelebihan pasokan minyak mentah, kata analis PVM Tamas Varga.
“Rangkaian sanksi AS yang baru terhadap produsen dan eksportir minyak utama Rusia membebani ekspor produk,” ujar Varga. Akibatnya, minyak pemanas dan bensin bergerak berbeda arah dibanding minyak mentah.
Produsen Timur Tengah—Saudi Arabia, Irak, dan Kuwait—akan menaikkan pasokan minyak mentah ke India pada Desember karena kilang-kilang India mencari alternatif pengganti minyak Rusia, kata sumber di empat kilang India pada Selasa.
Pasar juga mendapat dukungan karena penutupan pemerintah AS terpanjang dalam sejarah bisa berakhir pekan ini setelah Senat menyetujui kompromi yang akan memulihkan pendanaan federal.
Awal bulan ini, OPEC+ sepakat menaikkan target produksi Desember sebesar 137.000 barel per hari, namun juga sepakat untuk jeda kenaikan pada kuartal pertama tahun depan.
“Pasar minyak juga menghadapi kelebihan pasokan yang cukup besar pada tahun mendatang, yang membuat harga kemungkinan tetap tertekan. Penyebab utamanya adalah ekspansi pasokan signifikan oleh OPEC+,” tulis analis Commerzbank dalam sebuah catatan.
OPEC+, yang mencakup Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya seperti Rusia, telah menambah 2 juta barel per hari sejak April, dan kesediaan dalam kelompok tersebut untuk membalikkan pemotongan produksi sukarela lebih lanjut setelah jeda kuartal pertama dapat menambah 1 juta barel per hari lagi pada tahun mendatang, tambah Commerzbank.(yds)
Sumber: Reuters.com