Minyak Catat Penurunan Mingguan Kedua di Tengah Sanksi & Ancaman Surplus
Harga minyak naik pada Jumat (7/11) namun tetap membukukan penurunan untuk minggu kedua, karena pasar terus menimbang ancaman terhadap pasokan akibat sanksi pada Rusia versus potensi kelebihan suplai yang kian dekat.
Futures West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 0,5% dan ditutup di bawah $60 per barel, tetapi masih turun secara mingguan. Menambah kekhawatiran kelebihan pasokan, harga minyak juga terombang-ambing oleh gejolak di pasar saham pekan ini.
Sementara itu, langkah Gedung Putih membatasi pembelian minyak mentah Rusia membuat raksasa perdagangan minyak Gunvor Group menarik tawaran untuk aset internasional Lukoil PJSC. Nasib aset—termasuk kepemilikan di ladang minyak, kilang, dan SPBU—masih belum jelas.
Satu pengecualian dari pengetatan itu berpotensi muncul: Presiden Donald Trump memberi sinyal membuka opsi pengecualian bagi Hungaria dari sanksi pembelian energi Rusia saat menjamu Perdana Menteri Viktor Orban, sempat mendorong futures ke level terendah intraday. Perkembangan ini meredakan kekhawatiran kekurangan pasokan, mengingat Budapest mengimpor lebih dari 90% minyak mentahnya dari Moskow.
Tokoh industri senior memperingatkan pembatasan AS terbaru pada dua perusahaan minyak terbesar Rusia mulai berdampak pada pasar, terutama pada diesel, yang harganya melonjak dalam beberapa hari terakhir, dengan time spread mengindikasikan tekanan pasokan.
Pasokan dari dalam dan luar OPEC+ diperkirakan melonjak di akhir tahun ini hingga 2026, dengan IEA memperkirakan surplus rekor. Meski volume minyak yang meningkat mulai tampak di tanker, pusat penyimpanan utama belum merasakannya; persediaan minyak AS akhir Oktober justru lebih rendah daripada awal bulan.
China—konsumen minyak mentah terbesar kedua—menyatakan impor Oktober naik dibanding setahun lalu. Namun laju penimbunan diperkirakan melambat, berpotensi mengurangi penopang harga.
Pekan depan, pelaku pasar menantikan serangkaian laporan, termasuk dari IEA dan OPEC, untuk wawasan lebih lanjut tentang keseimbangan suplai-permintaan menjelang akhir tahun.
Harga:
WTI pengiriman Desember naik 0,54% menjadi $59,75 per barel (New York).
Brent untuk Januari naik 0,39% menjadi $63,63 per barel.(yds)
Sumber: Bloomberg.com