Emas Tertekan, Inflasi Tinggi Picu Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga
Harga emas dan logam mulia lainnya tertekan tajam setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan kenaikan terbesar dalam lebih dari tiga tahun. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa The Federal Reserve (The Fed) mungkin segera menaikkan suku bunga.
Spot emas diperdagangkan turun sekitar 2,7% setelah rilis data inflasi, menyentuh level terendah intraday sebelum laporan diumumkan. Inflasi tahunan tercatat naik 4,2%, level tertinggi sejak awal 2023, dipicu lonjakan harga energi. Para ekonom memperkirakan harga akan terus naik dalam beberapa bulan ke depan, sehingga kemungkinan kenaikan suku bunga tetap menjadi topik hangat di kalangan pejabat The Fed.
Spot emas tercatat turun 2,5% ke US$4.154,60 per ons pada pukul 13:53 waktu London. Sementara itu, perak turun 1,3% ke US$64,49, platinum melemah 3,1%, dan palladium relatif stabil. Indeks Bloomberg Dollar Spot turun 0,1%, menunjukkan dolar sedikit melemah.
Meskipun begitu, inflasi inti — yang menjadi acuan The Fed — hanya meningkat 0,2%, lebih rendah dari bulan sebelumnya dan di bawah estimasi 0,3%. Hal ini memberikan sedikit kelegaan bagi investor yang khawatir kenaikan suku bunga akan segera terjadi.
Tekanan pada emas sudah terlihat sebelum rilis laporan, seiring meningkatnya kekhawatiran atas keberlangsungan perdamaian di Timur Tengah. AS dan Iran saling bertukar serangan setelah helikopter militer AS ditembak jatuh, memicu gejolak baru di Selat Hormuz. Pasukan Amerika menargetkan situs Iran di dekat jalur strategis itu, sementara Korps Garda Revolusi Iran meluncurkan rudal ke empat target Amerika.
Bentrokan terbaru ini mengancam gencatan senjata yang rapuh dan berisiko memperpanjang penutupan hampir total Selat Hormuz, jalur penting pengiriman energi dari Timur Tengah ke pasar global. Harga minyak sempat menguat setelah Presiden Donald Trump menyatakan Iran harus membayar harga karena menunda negosiasi perdamaian.
Harga emas saat ini berada sekitar 20% di bawah level sebelum konflik Iran pecah akhir Februari. Penurunan emas yang menembus rata-rata pergerakan 200 hari memicu aksi jual tambahan karena level ini menjadi perhatian investor institusi. Menurut Suki Cooper, Kepala Riset Komoditas Global Standard Chartered Plc, “Pergerakan harga akan lebih rentan dalam jangka pendek seiring meningkatnya peluang kenaikan suku bunga. Berita dari Timur Tengah tetap penting; jika mereda, emas kemungkinan pulih seiring kebutuhan likuiditas menurun.”(yds)*
Sumber: Newsmaker.id