Emas Dekati Level Terendah Jelang CPI AS
Harga emas (XAU/USD) berada di bawah tekanan kuat pada perdagangan Rabu (10/6/2026), diperdagangkan di kisaran $4.180–$4.175 per ons, mendekati level terendah sejak 23 Maret. Investor menjual emas karena kekhawatiran terhadap inflasi akibat ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, sekaligus menambah tekanan bagi bank sentral untuk tetap hawkish.
Konflik baru antara kedua negara dimulai setelah AS melancarkan serangan balasan terhadap Iran menyusul jatuhnya helikopter Apache di Selat Hormuz. Balasan Iran, melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menargetkan pangkalan udara AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain. Iran memperingatkan bahwa serangan lanjutan dari AS akan dibalas lebih keras, sehingga sentimen risiko geopolitik tetap tinggi.
Kondisi ini turut memengaruhi harga minyak mentah, yang tetap berada di atas level terendah dua bulan sebelumnya. Lonjakan harga energi menambah tekanan inflasi global, yang pada gilirannya membuat emas sebagai aset non-yielding kurang diminati. Aliran modal pun cenderung bergerak ke aset yang memberikan imbal hasil.
Dari sisi kebijakan moneter, CME Group’s FedWatch Tool menunjukkan probabilitas hampir 75% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada akhir 2026. Kekhawatiran pasar atas inflasi yang tinggi akibat energi membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga tetap kuat. Namun, para pelaku pasar menunggu rilis data Consumer Price Index (CPI) AS sebagai acuan selanjutnya.
Ekspektasi CPI akan menjadi katalis penting bagi pergerakan dolar AS (USD) dan emas. Jika inflasi AS ternyata lebih tinggi dari perkiraan, peluang kenaikan suku bunga akan meningkat, menekan harga emas lebih lanjut. Sebaliknya, data inflasi lebih rendah bisa memberi ruang bagi rebound logam mulia.
Dengan latar belakang geopolitik yang tak menentu, harga emas diprediksi akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek, dengan tekanan dari imbal hasil obligasi AS dan penguatan dolar. Brent juga kemungkinan akan tetap bergerak tipis naik-turun seiring ketegangan di Timur Tengah, sehingga pasar komoditas dan logam mulia tetap rentan terhadap sentimen eksternal.(yds)
Sumber: Newsmaker.id