Konflik AS-Iran Memanas, Harga Emas Justru Terseret Turun
Harga emas kembali tertekan pada perdagangan Rabu (10/06). Spot gold turun sekitar 2% ke kisaran level US$4.100 per ons, setelah sempat menyentuh area US$4.173. Pelemahan ini membuat emas kembali jatuh di bawah level psikologis US$4.200.
Tekanan muncul setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke sejumlah titik di Iran. Serangan tersebut dilakukan sebagai balasan atas jatuhnya helikopter militer AS di dekat perairan Oman, yang disebut Presiden Donald Trump sebagai ulah Teheran. Kondisi ini membuat gencatan senjata di Timur Tengah kembali terancam.
Ketegangan tersebut juga meningkatkan kekhawatiran terhadap Selat Hormuz, jalur penting pengiriman energi dunia. Jika konflik mengganggu pasokan minyak, harga energi berisiko naik dan dapat mendorong inflasi global kembali panas. Situasi ini membuat pasar semakin berhati-hati.
Meski konflik geopolitik biasanya mendukung emas sebagai aset safe haven, kali ini dampaknya berbeda. Kenaikan harga minyak justru memicu kekhawatiran inflasi dan membuat peluang suku bunga tinggi semakin besar. Kondisi ini menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.
Dari sisi teknikal, emas semakin rentan setelah harga turun menembus rata-rata pergerakan 200 hari. Level ini sering diperhatikan investor besar sebagai penanda tren jangka panjang. Jika tekanan jual berlanjut, support berikutnya diperkirakan berada di sekitar US$4.100 per ons.
Secara keseluruhan, pelemahan emas menunjukkan bahwa pasar tidak hanya melihat konflik sebagai faktor safe haven. Investor juga memperhitungkan dampaknya terhadap minyak, inflasi, yield obligasi, dan arah kebijakan suku bunga The Fed. Selama risiko inflasi dan suku bunga tinggi masih kuat, emas berpotensi tetap berada dalam tekanan. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id