Emas Stabil, Pasar Cerna KTT Trump-Xi dan Risiko Inflasi
Harga emas bergerak relatif stabil pada Kamis (14/5) ketika investor menelaah detail pertemuan pemimpin AS dan China yang berlangsung di tengah perang Iran. Pada 13:26 GMT, emas spot naik tipis 0,1% ke US$4.695,08 per ons, sementara emas berjangka turun 0,1% ke US$4.701,05.
Putaran pertama pembicaraan dalam KTT dua hari antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping telah berakhir, dengan Xi menyampaikan kepada media pemerintah bahwa negosiasi, terutama terkait perdagangan, menunjukkan kemajuan. Namun Xi juga menegaskan bahwa penolakan AS dalam isu Taiwan berpotensi kembali memburuk-kan hubungan kedua negara.
Pasar terutama mencari sinyal terkait kemungkinan pembahasan perang Iran, termasuk spekulasi bahwa Trump dapat mendorong China, sebagai importir besar minyak Iran, untuk berperan sebagai “penjamin” kesepakatan damai yang lebih tahan lama. Pada saat yang sama, prospek ekonomi global tetap berkabut seiring penutupan Selat Hormuz berlanjut, jalur strategis di selatan Iran yang biasanya menyalurkan sekitar seperlima arus minyak dunia, sementara blokade ganda Iran dan AS membuat lalu lintas tanker nyaris berhenti.
Lonjakan harga minyak jauh di atas level pra-perang sekitar US$70 per barel meningkatkan tekanan inflasi dan memicu ekspektasi bahwa bank sentral dapat merespons dengan suku bunga lebih tinggi, kondisi yang berpotensi membatasi kinerja emas sebagai aset tanpa imbal hasil. Di AS, Senat mengonfirmasi Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve pada Rabu, menggantikan Jerome Powell, pada saat pembuat kebijakan menghadapi tekanan harga yang dapat menyulitkan ruang pemangkasan suku bunga agresif.
Sementara itu, dolar AS cenderung datar, meski tetap dipandang sebagai aset lindung nilai selama konflik, dengan sebagian pelaku pasar menilai posisi AS sebagai eksportir energi besar memberi bantalan relatif terhadap guncangan energi dari tersendatnya Hormuz.(yds)
Sumber: newsmaker.id