Emas Terkoreksi, Inflasi Energi Masih Mengintai
Harga emas masih menghadapi tekanan pada Jumat (10/4) namun masih berada di jalur kenaikan mingguan, ditopang ketidakpastian seputar gencatan senjata AS–Iran yang dinilai rapuh menjelang potensi pembicaraan akhir pekan ini. Emas spot turun 0,4% ke US$4.748,45/oz pada 05:47 ET, sementara kontrak berjangka emas AS turun 1,0% ke US$4.772,07/oz.
Secara mingguan, bullion diperkirakan naik sekitar 1,6%—menjadi kenaikan pekanan ketiga beruntun—meski harga bertahan di bawah puncak tiga pekan terakhir. Pasar menilai risiko geopolitik belum hilang, terutama setelah aktivitas militer Israel di Lebanon berlanjut dan memunculkan kembali perbedaan tafsir apakah Lebanon termasuk cakupan kesepakatan ceasefire.
Israel dilaporkan kembali menyerang target Hizbullah di Lebanon pada Jumat, yang memperumit prospek pembicaraan AS–Iran di Pakistan yang diantisipasi dimulai Sabtu. Media Iran menyebut Teheran membantah delegasi sudah tiba di Islamabad dan menyatakan pembicaraan tetap tertahan selama serangan Israel masih berlangsung di Lebanon.
Di sisi energi, Selat Hormuz masih largely tertutup sehingga menghambat normalisasi arus pasokan. Meski minyak turun pekan ini setelah sebelumnya melonjak mendekati US$120/barel dan bertahan di atas US$100 selama beberapa pekan, level energi yang tinggi telah meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memunculkan kembali skenario suku bunga tinggi lebih lama—lingkungan yang biasanya membatasi kinerja emas karena tidak memberikan imbal hasil. Dolar AS juga menjadi variabel penting: pelemahan indeks dolar lebih dari 1% sepanjang pekan membantu menahan koreksi emas melalui efek valuasi bagi pembeli non-AS.
Fokus pasar berikutnya tertuju pada rilis CPI AS pada Jumat, yang diperkirakan menunjukkan percepatan headline inflation akibat lonjakan harga bensin (rata-rata nasional di atas US$4/galon untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun) dan kenaikan harga diesel, sementara core CPI diproyeksikan lebih moderat. Variabel pemantauan utama: hasil pembicaraan Pakistan, status Hormuz, arah minyak, dan respons ekspektasi suku bunga The Fed pasca data inflasi. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id