Emas Lanjut Koreksi, Dolar Menguat Tipis Jelang Deadline Iran
Emas melemah dan memperpanjang penurunan dua hari, ketika pelaku pasar menimbang ancaman terbaru Presiden AS Donald Trump untuk menyerang infrastruktur Iran serta dampak perang yang berlarut terhadap prospek pertumbuhan. Tekanan harga terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian menjelang tenggat diplomatik pada Selasa (7/04) malam waktu AS.
Bullion sempat terkoireksi hingga 0,14% ke bawah US$4.642 per ons, setelah kehilangan lebih dari 2% dalam dua sesi sebelumnya. Trump menetapkan deadline Selasa pukul 8 malam ET untuk tercapainya kesepakatan dengan Teheran, atau AS akan memulai serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan, meningkatkan risiko eskalasi konflik.
Konflik yang memasuki pekan keenam juga memperbesar peluang bank sentral menunda pemangkasan suku bunga, bahkan membuka ruang pengetatan, seiring kekhawatiran inflasi yang dipicu guncangan pasokan energi. Di pasar obligasi, US Treasuries mencatat kenaikan terbatas, dengan ekspektasi pelaku pasar bahwa Federal Reserve cenderung mempertahankan suku bunga hingga akhir tahun.
Lingkungan suku bunga tinggi menjadi hambatan struktural bagi emas karena logam mulia tidak menawarkan imbal hasil. Dalam konteks ini, penurunan emas juga terjadi ketika minyak kembali menguat, memperkuat pola pergerakan yang cenderung berlawanan arah antara keduanya di fase konflik saat ini.
Meski demikian, tekanan biaya dari guncangan pasokan energi juga dinilai menahan pertumbuhan, sehingga tetap membuka ruang dukungan defensif bagi emas. Data terbaru menunjukkan sektor jasa AS melambat pada Maret, saat penyerapan tenaga kerja menyusut paling besar sejak 2023 dan harga input meningkat tajam.
Di sisi arus dana, terdapat indikasi minat beli saat harga turun mulai muncul. Kepemilikan ETF berbasis emas tercatat naik pada pekan lalu untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, menandakan sebagian investor mulai membangun kembali eksposur secara bertahap.
Trump juga menegaskan Selat Hormuz harus dibuka kembali sebagai bagian dari kesepakatan, sementara jalur tersebut disebut masih largely tertutup bagi pelayaran sejak konflik dimulai, dan Iran menolak proposal AS serta memperingatkan respons atas serangan lanjutan. Ke depan, minyak berpotensi tetap volatil dengan premi geopolitik bertahan selama ketidakpastian Hormuz dan tenggat Selasa belum menghasilkan kepastian; emas cenderung berada dalam tarik-menarik antara tekanan yield/suku bunga dan dukungan risk-off serta kekhawatiran pertumbuhan; sementara dolar berpeluang menguat saat risiko geopolitik naik dan pasar mengurangi eksposur risiko, tetapi arah lanjutannya akan sangat dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi kebijakan The Fed bila inflasi energi kembali meningkat. (asd)
Sumber: Newsmaker.id