Emas Sulit Bangkit Saat Ketakutan Pasar Berubah Jadi Kekhawatiran Inflasi
Harga emas kembali berada dalam tekanan ketika pasar global makin gelisah menghadapi perang AS-Israel melawan Iran yang belum menunjukkan arah penyelesaian yang jelas. Masalahnya, ketegangan ini tidak otomatis menguntungkan emas sebagai aset safe haven. Dalam fase sekarang, pasar justru lebih khawatir pada dampak lanjutan perang terhadap harga energi, inflasi, dan suku bunga. Reuters mencatat pada 1 April 2026 emas sempat naik ke US$4.784,22 per ounce, tetapi sebelumnya pada 26 Maret 2026 sempat jatuh tajam ke US$4.384,38 ketika dolar menguat dan harga minyak naik, menunjukkan bahwa emas kini sangat sensitif terhadap ekspektasi inflasi dan arah kebijakan moneter, bukan sekadar konflik itu sendiri.
Tekanan terbaru datang dari lonjakan harga energi. Pada 6 April 2026, Reuters melaporkan Brent naik ke sekitar US$111,43 per barel dan WTI ke US$114,57 setelah Donald Trump kembali mengancam Iran bila Selat Hormuz tidak dibuka. Ketika minyak naik setajam ini, pasar mulai memikirkan risiko inflasi baru yang bisa menjalar ke bensin, logistik, dan biaya hidup. Dalam kondisi seperti itu, emas justru bisa kehilangan daya tarik jangka pendek karena investor melihat peluang bahwa bank sentral akan menahan suku bunga tinggi lebih lama.
Dari sisi Amerika Serikat, tekanan ke emas juga diperkuat oleh data ekonomi yang masih cukup kuat. Reuters melaporkan payrolls AS bulan Maret bertambah 178.000, jauh di atas perkiraan 60.000, sementara tingkat pengangguran turun ke 4,3%. Data seperti ini mengurangi urgensi bagi The Fed untuk segera memangkas suku bunga. Semakin kecil peluang penurunan suku bunga, semakin berat posisi emas, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil dan biasanya kalah menarik saat yield dan dolar tetap tinggi.
Nada hati-hati The Fed juga mempertegas tekanan tersebut. Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan bank sentral bisa “wait and see” untuk menilai dampak perang terhadap inflasi, sementara pasar obligasi global sudah lebih dulu merespons lonjakan energi dengan kenaikan yield dan pengurangan ekspektasi pemangkasan suku bunga. Reuters juga melaporkan Trump belum memberi timeline jelas untuk mengakhiri perang, sesuatu yang menjaga ketidakpastian tetap tinggi tetapi sekaligus memperpanjang kekhawatiran bahwa guncangan energi ini tidak akan cepat hilang. Kombinasi inilah yang membuat emas berada di bawah tekanan: konflik memang menambah rasa takut, tetapi rasa takut itu sekarang lebih diterjemahkan pasar sebagai ancaman inflasi daripada dorongan murni ke safe haven.
Perlu dicatat, Reuters memang tidak menerbitkan laporan logam mulia pada 3 April 2026 karena banyak pasar tutup saat Good Friday. Jadi, pembacaan paling masuk akal untuk awal pekan ini adalah bahwa tekanan pada emas merupakan kelanjutan dari pola yang sudah terlihat beberapa hari sebelumnya: minyak tinggi, dolar dan yield tetap sensitif, dan pasar makin ragu bahwa The Fed akan segera melunak.(Zaf)
Sumber: Newsmaker.id