Emas Menguat Terbatas, Inflasi Energi Masih Menahan Reli
Harga emas menguat pada perdagangan Asia Jumat(13/3), tetapi masih mengarah ke penurunan mingguan kedua berturut-turut seiring pasar menilai risiko inflasi yang dipicu energi tetap tinggi akibat perang AS-Israel di Iran. Penguatan harian terjadi saat dolar dan minyak menghentikan kenaikannya, setelah AS mengumumkan tambahan pengecualian untuk minyak mentah Rusia guna meredam guncangan pasokan dari Iran.
Emas spot naik 0,6% ke US$5.109,46/oz, sementara emas berjangka turun 0,3% ke US$5.111,84/oz. Secara mingguan, emas spot diperkirakan turun sekitar 1,2%, tetap bergerak dalam rentang US$5.000–US$5.200/oz sejak perang dimulai, dan masih kesulitan pulih setelah turun dari rekor mendekati US$5.600/oz pada akhir Januari.
Dukungan safe-haven dari geopolitik sebagian tertahan oleh perubahan ekspektasi suku bunga, karena pasar khawatir minyak tinggi bisa menjaga inflasi global lebih “lengket” dan mendorong bank sentral bersikap lebih ketat lebih lama. Ini membuat pasar semakin mengurangi harapan penurunan suku bunga dalam waktu dekat, dengan The Fed secara luas diperkirakan menahan suku bunga pada pertemuan pekan depan.
Fokus berikutnya adalah rilis inflasi PCE AS untuk petunjuk arah kebijakan, meski data Januari dinilai belum menangkap dampak perang pada energi. Di logam lain, perak spot naik 0,7% ke US$84,3275/oz dan platinum spot naik 0,5% ke US$2.143,21/oz.
Yang dipantau pasar: arah minyak pasca kebijakan pasokan (termasuk pengecualian minyak Rusia), pergerakan dolar dan yield, serta bagaimana PCE membentuk pricing suku bunga menuju rapat The Fed.(alg)
Sumber: Newsmaker.id