Emas Turun saat Lonjakan Minyak Picu Ketakutan Suku Bunga yang Tinggi
Harga emas melemah, tertekan oleh penguatan dolar AS dan kekhawatiran suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama, ketika perang di Timur Tengah memasuki pekan kedua dan harga minyak kembali reli.
Emas sempat merosot hingga sekitar 3% sebelum memangkas kerugiannya. Di saat yang sama, minyak melonjak—kontrak Brent bahkan sempat mendekati $120 per barel sebelum kenaikan mereda—setelah produsen di kawasan Teluk Persia memangkas produksi dan perang AS–Israel melawan Iran belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian. Indeks pengukur dolar juga sempat menguat tajam.
Tekanan pada emas muncul karena reli minyak menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi di AS. Kondisi ini meningkatkan peluang Federal Reserve mempertahankan suku bunga tetap tinggi lebih lama—bahkan skenario kenaikan suku bunga kembali dipertimbangkan. Suku bunga yang lebih tinggi dan dolar yang lebih kuat umumnya negatif untuk logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Di sisi lain, emas juga sempat menjadi sumber likuiditas ketika aksi jual di pasar saham global kian dalam.
“Dalam periode stres pasar yang dipicu geopolitik, investor kadang menjual aset seperti emas untuk mengumpulkan uang tunai,” kata Christopher Wong, strategist di Oversea-Chinese Banking Corp. Ia menambahkan, setelah fase itu berlalu, ketidakpastian geopolitik biasanya kembali menopang permintaan safe haven saat harga turun.
Meski pergerakan harga dalam beberapa hari terakhir cenderung berombak dan momentum naik tertahan, emas masih mencatat kenaikan sekitar 18% sepanjang tahun ini. Gejolak perdagangan global dan geopolitik—serta kekhawatiran terhadap independensi The Fed—menjadi faktor yang mendukung aset safe haven. Pembelian bank sentral yang tetap tinggi juga menopang tren, termasuk People’s Bank of China yang kembali menambah cadangan emas pada Februari dan memperpanjang tren pembelian selama 16 bulan berturut-turut.
Perang di Timur Tengah kini memasuki hari ke-10. Iran disebut memilih pemimpin tertinggi baru dan melanjutkan serangan di kawasan Teluk Persia, sementara Israel menyerang depot bahan bakar di Teheran dan mengancam jaringan listrik Iran. Serangan terhadap infrastruktur energi dan tersendatnya pelayaran di Selat Hormuz—jalur yang biasanya mengalirkan sekitar seperlima minyak dunia—ikut mendorong kenaikan harga minyak dan gas alam.
Menurut Ed Meir, analis di Marex, akhir konflik yang relatif cepat berpotensi melemahkan dolar dan mendukung reli emas. Sebaliknya, perang yang berkepanjangan dapat mendorong dolar dan yield Treasury naik karena pasar mengantisipasi inflasi dan suku bunga lebih tinggi. Ia menilai saat ini pendekatan “menunggu” menjadi opsi yang lebih tepat.
Pada perdagangan pagi di London, emas spot turun 1,4% ke $5.100,67 per ons. Perak turun 0,9% ke $83,82, sementara platinum melemah 1,8% dan palladium turun 1,7%. Indeks dolar Bloomberg naik 0,3%, setelah melonjak 1,3% pada pekan sebelumnya.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id