Emas Menguat, Tarif AS dan Ketegangan Timur Tengah Angkat Permintaan Safe Haven
Harga emas naik pada Rabu (25/2), sementara perak melonjak tajam, ketika pelaku pasar menimbang ketidakpastian tarif impor AS dan meningkatnya friksi geopolitik di Timur Tengah. Emas sempat menguat hingga sekitar 1,4%, memangkas sebagian kerugian pada sesi sebelumnya, didukung minimnya kejelasan arah kebijakan perdagangan AS serta meningkatnya tensi menjelang putaran baru pembicaraan nuklir AS–Iran pekan ini. Perak kembali menembus $90/oz.
Emas juga dinilai kembali menemukan pijakan di atas $5.000/oz, setelah memulihkan lebih dari separuh penurunan akibat koreksi tajam dua hari di awal bulan. Sejumlah pelaku pasar menilai ruang penguatan masih terbuka. JP Morgan Private Bank menyebut kondisi saat ini berpotensi menjadi pemicu “breakout” ke atas, karena kombinasi ketidakpastian tarif dan risiko Iran dapat mendorong pergeseran permintaan yang lebih berkelanjutan.
Dari sisi kebijakan perdagangan, tarif impor menyeluruh 10% yang diumumkan Presiden AS Donald Trump mulai berlaku sejak Selasa, menyusul putusan Mahkamah Agung yang membatalkan rezim tarif “resiprokal” sebelumnya. Trump sempat mengancam menaikkan tarif menjadi 15%, namun hingga kini belum menerbitkan arahan resmi untuk kenaikan tersebut. Pemerintah AS juga menyiapkan serangkaian investigasi keamanan nasional atas dampak impor sejumlah komoditas seperti baterai dan bahan kimia industri—langkah yang berpotensi membuka pintu tarif tambahan.
Sementara itu, sebagian importir mulai mengajukan refund tarif kepada pemerintah. BNP Paribas menilai potensi refund tersebut dapat berdampak signifikan terhadap defisit anggaran AS, dolar, dan pasar obligasi Treasury. Di tengah kekhawatiran beban utang pemerintah yang meningkat, narasi “debasement trade” kembali menguat—di mana kekhawatiran inflasi atau pelemahan dolar mendorong investor mengalihkan portofolio ke aset keras seperti emas.
Namun, prospek suku bunga AS masih menjadi penyeimbang. Emas berpotensi menghadapi hambatan bila The Fed menahan suku bunga lebih lama, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Presiden Fed Boston Susan Collins menyatakan suku bunga kemungkinan akan tetap tidak berubah “untuk beberapa waktu” setelah data terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja AS membaik. Risalah rapat kebijakan The Fed Januari juga mengindikasikan para pejabat masih berhati-hati untuk memangkas biaya pinjaman.
Pada perdagangan New York, emas naik 0,9% menjadi $5.188,22/oz, sementara perak melonjak 3,9% ke $90,56/oz. Platinum melonjak 6,3%, dan palladium naik 1,2%. Indeks dolar spot Bloomberg tercatat stabil. Perdagangan logam di CME sempat dihentikan sementara karena gangguan teknis, namun kembali dilanjutkan; gold futures naik 0,7% ke $5.214,70, sedangkan silver futures menguat 3,9% ke $91,58.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id