Jelang Data Kerja AS, Emas Masuk Mode Waspada
Harga emas melemah pada Rabu (7/1) setelah sempat menyentuh level tertinggi lebih dari sepekan di awal sesi. Tekanan muncul karena investor memilih ambil untung usai reli singkat, sementara pasar mulai fokus ke rangkaian data tenaga kerja AS yang bisa mengubah ekspektasi arah suku bunga The Fed. Pada perdagangan terbaru, emas spot turun 0,8% ke $4.460/oz.
Pelemahan emas juga dipicu dolar AS yang menguat dan bertahan dekat level tertinggi lebih dari dua pekan. Saat dolar menguat, emas yang dihargai dalam USD otomatis jadi lebih mahal bagi pembeli dari mata uang lain—membuat permintaan cenderung menahan. Kondisi ini menekan seluruh kompleks logam mulia, bukan hanya emas.
Meski begitu, ekspektasi pasar masih condong ke skenario pelonggaran: investor menilai The Fed berpotensi melakukan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini. Pasar kini menanti petunjuk dari data ketenagakerjaan, termasuk ADP dan JOLTS yang rilis lebih dulu, sebelum puncaknya laporan Non-Farm Payrolls (NFP) pada Jumat—yang biasanya jadi pemicu volatilitas emas dan dolar.
Komentar pejabat The Fed ikut menambah bumbu. Gubernur Fed Stephen Miran menilai pemangkasan suku bunga yang lebih agresif dibutuhkan untuk menjaga ekonomi tetap bergerak. Secara teori, prospek suku bunga lebih rendah biasanya mendukung emas karena emas tidak memberikan imbal hasil. Namun dalam jangka pendek, pasar tetap sensitif pada “kekuatan data”—jika data AS terlalu kuat, peluang pemangkasan bisa tertahan dan menekan emas.
Di luar data, faktor geopolitik juga ikut membentuk sentimen. Kesepakatan terkait ekspor minyak Venezuela ke AS dinilai bisa menggeser sebagian pasokan dari China, menambah dinamika baru di pasar komoditas. Sementara itu, logam mulia lain ikut melemah: perak turun 2,5% ke $79,27/oz, platinum turun 6,2% ke $2.291,24/oz, dan palladium turun 4,7% ke $1.736,93/oz. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id