Emas Dekati Rekor, Risiko Geopolitik Derong Permintaan Aset Aman
Harga emas melanjutkan penguatan pada Selasa (6/1), ditopang arus pembelian aset safe haven pasca penangkapan Presiden Venezuela oleh Amerika Serikat memicu ketegangan global. Di saat yang sama, investor menanti data ketenagakerjaan AS untuk membaca arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Emas spot naik 0,8% menjadi US$4.485,39 per ons pada pukul 13.40 waktu AS (18.40 GMT), setelah melonjak hampir 3% pada sesi sebelumnya. Kenaikan ini membawa harga semakin dekat ke rekor US$4.549,71 yang tercatat pada 24 Desember. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari ditutup naik 1% di US$4.496,10.
Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menilai pelaku pasar logam mulia melihat potensi risiko ke depan lebih besar dibanding pelaku pasar saham dan obligasi saat ini. Menurutnya, operasi AS di Venezuela pada akhir pekan memperkuat permintaan safe haven untuk emas dan perak.
Sementara itu, Nicolás Maduro yang telah digulingkan mengaku tidak bersalah pada Senin atas tuduhan terkait narkotika, setelah AS menahannya dan membawanya ke New York. Emas—yang dikenal sebagai aset lindung nilai—mencatat kenaikan 64,4% sepanjang tahun lalu, menjadi performa tahunan terbaik sejak 1979.
Fokus pasar kini bergeser ke laporan ketenagakerjaan bulanan AS pada Jumat. Data tersebut diperkirakan menunjukkan penambahan 60.000 pekerjaan pada Desember, sedikit lebih rendah dari 64.000 pada bulan sebelumnya. Pelaku pasar saat ini memperhitungkan dua kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, berdasarkan data LSEG.
Di sisi kebijakan, Presiden Fed Richmond Tom Barkin mengatakan perubahan suku bunga berikutnya perlu “disetel dengan presisi” agar seimbang terhadap risiko pengangguran dan inflasi. Emas yang tidak memberikan imbal hasil biasanya diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah.
Sementara Morgan Stanley yang merupakan perushaan jasa keuangan terkemuka memperkirakan harga emas berpotensi naik ke US$4.800 pada kuartal IV tahun ini, didorong proyeksi penurunan suku bunga, perubahan kepemimpinan di The Fed, serta pembelian kuat dari bank sentral dan dana.
Perak spot—yang sempat mencetak rekor US$83,62 pada 29 Desember—melonjak 5,4% menjadi US$80,68 per ons. Perak juga membukukan kenaikan tahunan terbesar pada 2025, melesat 147% karena permintaan industri dan minat investor.
Platinum spot naik 7,2% ke US$2.435,20, sementara palladium menguat 5,9% ke US$1.821,68.(yds)
Sumber: Reuters.com