Ketegangan Timur Tengah Guncang Harga Emas dan Minyak
Pada pekan kemarin Harga emas bergerak sangat volatil akibat perubahan sentimen geopolitik, pergerakan harga minyak, dolar AS, dan imbal hasil obligasi. Emas sempat tertekan ketika lonjakan minyak meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperbesar peluang suku bunga Federal Reserve bertahan tinggi. Namun, pelemahan dolar, aksi beli teknikal, dan munculnya harapan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali memberikan dukungan. Secara keseluruhan, emas menutup pekan dengan penguatan sekitar 1,4%.
Sementara Harga minyak juga mengalami fluktuasi tajam seiring meningkatnya konflik di Timur Tengah. Ancaman Amerika Serikat terhadap Iran, embargo maritim kelompok Houthi, serta risiko terganggunya jalur pengiriman energi mendorong Brent menembus US$100 per barel. Kekhawatiran pasar semakin besar karena konflik berpotensi menghambat ekspor minyak dan bahan bakar dari negara-negara Teluk.
Namun, kenaikan minyak kemudian terkoreksi setelah muncul laporan mengenai upaya Pakistan dan China untuk menghidupkan kembali perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan terhadap jalur diplomatik membuat Brent turun hampir 4% ke sekitar US$93,8 per barel. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa harga emas dan minyak masih sangat sensitif terhadap perkembangan konflik, inflasi, kebijakan suku bunga, dan upaya diplomasi di Timur Tengah.
Skenario Gold Minggu Ini
Bullish terbatas selama bertahan di atas US$4.050. Target awal berada di US$4.120 dan US$4.165, tetapi emas baru memiliki peluang mengubah struktur menjadi lebih bullish apabila mampu menembus US$4.200–4.220. Kegagalan mempertahankan US$4.050 akan membuka risiko penutupan gap menuju US$4.000.
Sementara Harga Brent atau BCO sedang mengalami koreksi tajam setelah gagal bertahan di area US$94–95 per barel. Tekanan jual masih cukup dominan selama harga berada di bawah US$92,5, dengan area support terdekat di kisaran US$87–85. Jika level tersebut ditembus, penurunan berpotensi berlanjut menuju US$82–80.
Namun, selama Brent masih mampu bertahan di atas US$85, peluang rebound tetap terbuka. Harga berpotensi kembali menguji US$90, lalu US$93–95. Secara umum, arah jangka pendek masih cenderung bearish dan baru akan kembali positif jika harga mampu menembus area US$92,5–95.
DISCLAIMER
Catatan: Artikel ini hanya analisis dan bukan referensi definitif. Perhatikan perkembangan aspek fundamental dan teknis dalam perdagangan sebelum membuat keputusan investasi.