RBA Tegaskan Inflasi Terlalu Tinggi, Risiko Kenaikan Suku Bunga Menguat
Reserve Bank of Australia (RBA) menegaskan inflasi masih “terlalu tinggi” dan suku bunga perlu berada pada level yang konsisten untuk mengembalikan inflasi ke target 2–3%, di tengah lonjakan harga energi terkait perang Iran yang menekan kepercayaan konsumen dan bisnis. Wakil Gubernur RBA Andrew Hauser, berbicara di New York, menyebut lonjakan minyak sebagai guncangan pendapatan yang signifikan bagi Australia.
Hauser memperingatkan pembuat kebijakan mewaspadai risiko ekspektasi inflasi jangka menengah-panjang mulai bergeser naik. Ia menekankan, suku bunga “harus” menuju level yang membawa inflasi kembali ke target, dan jika itu berarti lebih tinggi maka suku bunga bisa dinaikkan, sambil menegaskan bank sentral akan memantau shock energi ini dengan cermat.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi kesiapan RBA untuk mengetatkan kebijakan lebih lanjut, setelah inflasi dinilai sudah membandel bahkan sebelum konflik Timur Tengah. RBA telah menaikkan suku bunga dua kali berturut-turut tahun ini hingga cash rate 4,1%, dan pasar uang menaikkan peluang kenaikan ketiga pada pertemuan bulan depan menjadi sekitar 72% dari 69% sehari sebelumnya.
Tekanan dari sisi sentimen terlihat pada data Selasa: kepercayaan konsumen jatuh 12,5% pada April, penurunan bulanan terbesar sejak awal pandemi Covid, sementara kepercayaan bisnis anjlok 29 poin, menjadi penurunan bulanan terbesar kedua dalam sejarah survei. Hauser menyebut skenario “mimpi buruk” bagi bank sentral adalah inflasi naik bersamaan dengan aktivitas melemah, karena akan membuat keputusan kebijakan jauh lebih rumit, meski ia mencatat konsumsi swasta masih tumbuh namun relatif rendah.
Di sisi energi, volatilitas minyak meningkat sejak konflik dimulai dan gangguan pasokan global memicu debat apakah RBA perlu menaikkan suku bunga pada rapat 4–5 Mei. Pemerintah Australia merespons lonjakan harga BBM dengan pemotongan pajak bahan bakar untuk membantu meredakan tekanan inflasi. Ke depan, pasar menunggu rilis inflasi kuartal I pada akhir April beserta pembaruan proyeksi staf RBA, disusul data tenaga kerja pertengahan April dan indikator belanja konsumen sebagai penentu arah kebijakan berikutnya. (asd)
Sumber: Newsmaker.id