Inflasi AS Masih Lengket, Perang Iran dan Tarif Bikin The Fed Hati-hati
Inflasi Amerika Serikat masih belum sepenuhnya mereda, membuat Federal Reserve tetap berhati-hati di tengah perang Iran yang memicu lonjakan risiko energi. Ukuran inflasi yang paling diawasi The Fed, core PCE, tercatat 3,1% (y/y) pada Januari, sementara headline PCE 2,8% (y/y) jauh di atas target inflasi 2%.
Di saat yang sama, tekanan harga dari sisi hulu juga belum turun meyakinkan. Inflasi produsen (PPI) Februari disebut tetap panas dengan kenaikan bulanan yang kuat dan laju tahunan yang lebih tinggi, menandakan biaya input masih berpotensi “menetes” ke harga konsumen.
Perang Iran memperbesar risiko inflasi lewat kanal energi dan logistik. Reuters mencatat The Fed menilai ketidakpastian meningkat akibat konflik, sementara harga energi yang lebih tinggi berisiko mengerek inflasi dan menahan ruang pemangkasan suku bunga. The Fed juga menaikkan proyeksi inflasi 2026 menjadi 2,7% (dari 2,4% pada proyeksi Desember), dan menyebut tekanan terkait harga minyak serta tarif sebagai faktor yang ikut membebani proses disinflasi.
Dari sisi ekonomi riil, data konsumsi masih bertahan, tetapi ada sinyal perlambatan yang mulai muncul. Reuters melaporkan belanja konsumen Januari naik 0,4%, namun kenaikan itu banyak dipengaruhi harga, sementara pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 direvisi turun ke 0,7% membuat kebijakan moneter semakin “serba salah”: pertumbuhan melunak, tetapi inflasi belum jinak.
Bagi pasar, kombinasi ini memperkuat tema higher for longer. Selama risiko inflasi energi dan tarif belum mereda, The Fed cenderung mempertahankan kebijakan ketat lebih lama yang biasanya menopang dolar dan menjaga volatilitas pada yield serta aset berisiko.(CP)
Source: Newsmaker.id