The Fed Hadapi Dilema Iran: Inflasi Energi Naik, Risiko Perlambatan Mengintai
Pejabat Federal Reserve AS bertemu pekan ini dengan prospek kebijakan yang semakin tidak pasti setelah perang Iran mengganggu arus sekitar seperlima pasokan minyak global. Fokus rapat bergeser pada pertanyaan inti: apakah guncangan energi ini lebih berisiko menekan pertumbuhan, membuat inflasi lebih persisten, atau memicu kombinasi yang paling sulit bagi bank sentral—perlambatan ekonomi di tengah kenaikan harga.
Dengan inflasi masih sekitar satu poin persentase di atas target 2% dan berpotensi naik jika lonjakan harga minyak bertahan, pelaku pasar menilai The Fed cenderung mengambil nada hati-hati hingga hawkish. Sejumlah ekonom menilai perdebatan yang sebelumnya nyaris tak terpikirkan kini menguat, termasuk apakah peluang kenaikan suku bunga pada 2026 perlu masuk radar—meski skenario itu tetap dinilai kecil tanpa lonjakan jelas pada ekspektasi inflasi.
Pada saat yang sama, The Fed harus menimbang apakah guncangan ini akan merusak ketahanan ekonomi melalui pengetatan kondisi keuangan, pelemahan harga aset, dan meningkatnya ketidakpastian. Material risiko yang disebut antara lain pelemahan pasar tenaga kerja—termasuk penurunan 92.000 pekerjaan pada Februari—serta tekanan pada konsumen menengah-bawah yang sudah terhimpit harga tinggi dan kekhawatiran pengetatan kredit jika koreksi aset berlanjut.
Dampak di tingkat rumah tangga mulai terasa. Rata-rata harga bensin ritel AS dilaporkan naik hampir 25% dalam dua pekan sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran, mencapai level tertinggi sejak Oktober 2023. Pemerintah AS memperkirakan konflik bisa berakhir dalam beberapa minggu, dengan Menteri Energi AS menyebut pasokan berpeluang pulih dan harga turun setelah itu, meski arah perang tetap sulit dipetakan karena belum ada sasaran dan garis waktu yang jelas.
Rapat kebijakan The Fed pada Selasa–Rabu diperkirakan mempertahankan suku bunga. Namun para pejabat tetap akan merilis proyeksi ekonomi terbaru—mencoba menilai apakah kebijakan ketat perlu dipertahankan untuk melawan inflasi, atau ruang pemangkasan suku bunga dibutuhkan untuk meredam perlambatan. Kompleksitas meningkat karena The Fed sedang memasuki transisi kepemimpinan, dengan Kevin Warsh—nominasi Presiden Donald Trump—diperkirakan menggantikan Jerome Powell setelah pertengahan Mei jika mendapat konfirmasi Senat.
Dalam kondisi “kabut perang” dan volatilitas minyak yang tinggi, pendekatan paling mudah adalah tetap dekat dengan proyeksi sebelumnya yang menunjukkan median hanya satu pemangkasan suku bunga tahun ini. Namun perbedaan pandangan internal berpotensi menonjol, mengingat sebelumnya sebagian pejabat sudah menunjukkan preferensi suku bunga lebih tinggi dan minutes rapat Januari membuka kemungkinan kenaikan jika inflasi tetap di atas target.
Pasar akan memantau durasi konflik dan pemulihan arus di Selat Hormuz, ketahanan harga minyak dan bensin, arah ekspektasi inflasi serta yield Treasury, tanda pengetatan kredit, dan dinamika pasar tenaga kerja—variabel yang akan menentukan apakah The Fed condong bertahan hawkish lebih lama atau kembali membuka ruang pelonggaran ketika risiko pertumbuhan membesar. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id