State Street: “3 Kali Cut” Bisa Dorong Dolar Turun 10%
Prediksi dolar AS bisa melemah hingga 10% lagi ramai dibahas setelah strategis State Street, Lee Ferridge, menilai ada risiko Federal Reserve memangkas suku bunga lebih dalam dari perkiraan pasar di 2026. Pasar saat ini banyak mem-price dua kali pemangkasan mulai sekitar pertengahan tahun, namun Ferridge melihat peluang pemangkasan ketiga yang bila terjadi, bisa menjadi pemicu tekanan lebih besar ke dolar.
Menurut Ferridge, kuncinya bukan cuma soal cut rate tapi juga efek sampingnya: biaya hedging investor asing terhadap aset berdenominasi dolar bisa turun saat suku bunga AS ikut turun. Kalau biaya hedging makin murah, investor global cenderung meningkatkan lindung nilai (jual USD untuk hedge), yang pada akhirnya menambah tekanan pada greenback. Ia juga menyinggung periode kebijakan yang lebih tidak pasti saat pergantian pimpinan Fed, yang bisa membuat pasar makin sensitif.
Di sisi lain, tidak semua proyeksi seagresif -10% Morgan Stanley misalnya memandang dolar bisa melemah lebih jauh sampai sekitar DXY 94 di kuartal II 2026, namun kemudian berpeluang rebound menuju akhir tahun alias pergerakannya “choppy”, bukan turun lurus. Sementara itu, survei Reuters menunjukkan banyak strategist masih cenderung bearish dolar di awal 2026, dengan sorotan pada isu independensi Fed dan arah suku bunga, tetapi penurunannya lebih ke skenario “moderat”, bukan selalu sedalam 10%.
Intinya: skenario dolar -10% biasanya baru masuk akal kalau terjadi kombinasi (1) Fed cut lebih agresif dari ekspektasi, (2) ketidakpastian kebijakan/independensi Fed meningkat, dan (3) investor global menaikkan hedge USD. Kalau data AS tetap kuat (seperti jobs yang baru rilis) dan pasar jadi lebih “hawkish”, dolar masih bisa punya fase rebound dulu sebelum tren melemah muncul lagi.(Cp)
Sumber: Newsmaker.id