Barkin Ingatkan Risiko: AI & Konsumen Jadi Penopang Utama
Presiden Federal Reserve Richmond, Tom Barkin, menilai pemangkasan suku bunga yang dilakukan tahun lalu berperan sebagai “penopang” agar pasar tenaga kerja tetap kuat, sementara bank sentral melanjutkan upaya menurunkan inflasi ke sasaran. Dalam pidato yang disiapkan untuk acara di Columbia, Carolina Selatan pada hari Selasa (3/2), Barkin menyebut penurunan suku bunga itu membantu menjaga momentum lapangan kerja ketika proses menurunkan inflasi memasuki tahap yang lebih sulit.
Menurut Barkin, arah ekonomi belakangan terlihat lebih baik karena ketidakpastian mulai menurun, tetapi ia menekankan masih ada risiko. Perekrutan, kata dia, masih terkonsentrasi pada sektor-sektor tertentu, sementara inflasi tetap berada di atas target 2% milik The Fed—situasi yang membuat kebijakan perlu tetap waspada.
Minggu lalu, para pejabat The Fed memutuskan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75%. Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan kebijakan moneter saat ini berada pada posisi yang cukup fleksibel untuk merespons perubahan risiko, baik dari sisi inflasi maupun dari sisi tenaga kerja, setelah tahun lalu bank sentral melakukan tiga kali pemangkasan beruntun.
Barkin juga menilai beberapa sumber ketidakpastian—seperti dampak tarif dan perubahan kebijakan—mulai mereda memasuki 2026. Dalam percakapannya dengan pelaku bisnis, ia menangkap sinyal bahwa permintaan masih relatif stabil. Ia juga memperkirakan musim pengembalian pajak, turunnya harga bensin, dan efek kebijakan yang lebih longgar dapat memberi dukungan tambahan bagi aktivitas ekonomi sepanjang tahun ini.
Satu poin yang ia soroti: konsumen yang keuangan rumah tangganya sedang ketat cenderung menolak kenaikan harga, sehingga perusahaan tidak mudah meneruskan biaya tarif ke konsumen. Bagi Barkin, ini menjadi salah satu faktor yang membantu menahan tekanan inflasi agar tidak kembali memanas.
Meski begitu, ia mengingatkan sumber ketahanan ekonomi AS saat ini tidak merata. Barkin menilai kekuatan permintaan banyak ditopang oleh pembangunan infrastruktur terkait kecerdasan buatan dan belanja kelompok berpendapatan tinggi. Ia memperingatkan, jika sektor AI melemah dan menekan investasi serta pasar saham, efek lanjutannya bisa mengurangi konsumsi kelompok kaya karena nilai kekayaan bersih ikut turun. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id