Cut Rate Bukan Sekarang: Bostic Kasih Sinyal ‘Tahan Dulu’
Raphael Bostic, Presiden Federal Reserve Atlanta, menegaskan satu hal: inflasi masih terlalu tinggi dan harus diturunkan. Dalam wawancara dengan CNBC pada hari Jumat (30/1), Bostic menilai The Fed sebaiknya lebih sabar dulu—karena tekanan harga belum benar-benar “jinak”, bahkan ada risiko inflasi stagnan untuk sebagian besar tahun ini.
Bostic menyebut selama dua tahun terakhir inflasi cenderung mandek, dan ia masih melihat “gelombang” dampak tarif yang belum sepenuhnya masuk ke harga. Itulah kenapa ia menekankan The Fed perlu tetap waspada, bukan buru-buru mengendurkan kebijakan hanya karena pasar berharap pemangkasan suku bunga.
Soal suku bunga, pesannya jelas: belum perlu cut sekarang. Bostic bilang saat ini ada argumen bahwa risiko inflasi dan risiko pekerjaan posisinya relatif seimbang. Namun ia menambahkan, risiko pelemahan pasar tenaga kerja yang serius masih terasa lebih jauh dibanding sebelumnya—artinya belum ada tanda bahaya yang cukup kuat untuk “memaksa” The Fed menurunkan suku bunga.
Dari sisi dunia usaha, Bostic bilang kontak terakhirnya dengan bisnis terdengar lebih tenang soal inflasi. Ia tidak berharap inflasi melonjak lagi, tapi ia juga menilai inflasi bisa bertahan di level tinggi—alias sulit turun cepat. Karena itu, ia menegaskan dua kali pemotongan suku bunga bukan skenario dasar yang ia pegang saat ini.
Bostic juga menyinggung isu panas soal Kevin Warsh. Ia mengaku tidak mengenal Warsh dengan baik, tapi mendengar Warsh sosok yang “cukup bijaksana.” Namun ia menekankan: keputusan suku bunga bukan urusan satu orang—di FOMC ada 12 pengambil suara, dan dinamika di meja rapat bisa berbeda dengan persepsi publik.
Terakhir, Bostic ikut menyorot soal neraca (balance sheet) The Fed. Neraca membesar karena krisis, tetapi menurutnya The Fed sebaiknya mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah secara bertahap dan fokus memegang surat berharga yang lebih “sesuai pasar.” Ukuran neraca saat ini ia nilai sudah pas, tetapi tetap perlu tumbuh seiring pertumbuhan ekonomi—di saat yang sama, independensi The Fed tetap jadi isu yang perlu dijaga dan dipantau, termasuk bagaimana Warsh nanti menjalankan perannya. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id