Pasar Siap “Whipsaw”: The Fed Pause, Powell Jadi Kunci Arah Berikutnya
Federal Reserve pada Rabu (28/1) diperkirakan luas akan menahan suku bunga acuan dan menghentikan rangkaian tiga pemangkasan berturut-turut masing-masing 25 basis poin. Data ekonomi terbaru memberi sinyal yang campur: inflasi terlihat masih “kaku”, sementara pasar tenaga kerja mengirim pesan yang tidak sepenuhnya searah. Setelah total memangkas suku bunga 75 bps menjelang akhir tahun lalu, Ketua The Fed Jerome Powell pada Desember menilai suku bunga kebijakan kini sudah berada di kisaran level “netral”, sehingga bank sentral merasa berada pada posisi yang tepat untuk menunggu dan melihat arah ekonomi.
Sejumlah pelaku pasar menilai pemangkasan suku bunga tambahan belum mendesak. Glen Smith, kepala investasi di GDS Wealth Management, menyebut pemotongan saat ini “tidak dibenarkan” dengan mempertimbangkan membaiknya data tenaga kerja, inflasi yang relatif stabil, dan fakta bahwa The Fed baru saja menyelesaikan tiga kali pemangkasan beruntun. Smith juga memperkirakan hanya satu kali pemangkasan untuk tahun 2026, dengan peluang paling besar terjadi pada paruh kedua tahun—dan kemungkinan berada di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru.
Namun sorotan pasar kali ini tidak berhenti di angka suku bunga. Investor justru mengawasi satu isu yang jauh lebih sensitif: independensi The Fed. Pasar menunggu apakah Powell akan menyinggung penyelidikan pemerintahan Trump. Awal bulan ini, Departemen Kehakiman AS mengirim surat panggilan terkait proyek renovasi gedung kantor The Fed, dan Powell menyiratkan bahwa langkah tersebut terasa seperti “hukuman” karena The Fed menetapkan suku bunga berdasarkan penilaian terbaiknya, bukan mengikuti preferensi presiden. Trump sendiri sudah lama berseteru dengan Powell, termasuk kritik terbuka soal suku bunga dan ancaman pemecatan.
Bagi Wall Street, keputusan menahan suku bunga pada dasarnya sudah “masuk harga”. Karena itu, perhatian utama diperkirakan akan terkunci pada konferensi pers Powell—baik untuk membaca sinyal arah kebijakan berikutnya, maupun untuk menangkap cara Powell merespons tekanan politik. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id