Geopolitik Timur Tengah Memanas, Eropa Hadapi Tekanan Baru
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah serangan militer Israel ke sejumlah target di Yaman dan Qatar yang menewaskan tokoh Hamas dan pejabat keamanan. Langkah ini memicu reaksi keras dari komunitas internasional, terutama Uni Eropa yang mulai mempertimbangkan opsi sanksi terhadap Israel, sebuah langkah yang sebelumnya sulit tercapai karena fragmentasi politik di dalam blok tersebut.
Selain itu, jalur Laut Merah yang strategis kembali menjadi titik rawan. Kelompok Houthi di Yaman meningkatkan ancaman terhadap kapal dagang internasional sebagai balasan atas serangan Israel. Situasi ini memperburuk keamanan energi global, mengingat kawasan tersebut menjadi jalur vital ekspor minyak dan gas.
Dampak ke Eropa
Energi & Inflasi
Eropa sangat bergantung pada impor energi dari luar, khususnya minyak dan gas dari Timur Tengah serta Afrika Utara. Jika ketegangan terus meningkat, biaya transportasi dan premi risiko akan naik, mendorong harga energi lebih tinggi. Hal ini dapat memperburuk inflasi yang sudah menekan ekonomi Eropa pasca krisis Ukraina.
Keamanan & Migrasi
Konflik di Timur Tengah berpotensi memicu gelombang migrasi baru ke Eropa. Negara-negara seperti Yunani, Italia, dan Spanyol kemungkinan akan menghadapi arus pengungsi lebih besar, yang bisa memicu ketegangan politik dalam negeri dan memperkuat partai sayap kanan.
Politik & Diplomasi
Uni Eropa terjebak dalam dilema: menyeimbangkan hubungan strategis dengan Israel dan AS, sambil menghadapi tekanan publik yang menuntut sikap tegas terhadap pelanggaran HAM. Krisis ini bisa memperdalam perpecahan internal UE antara negara yang pro-Israel dan yang pro-Palestina.
Pasar Keuangan
Ketidakpastian geopolitik mendorong investor Eropa untuk mencari aset aman seperti emas dan dolar AS. Akibatnya, euro bisa melemah sementara saham-saham sektor energi (minyak, gas, pertahanan) cenderung menguat.(CP)
Sumber: Newsmaker.id