Perang Timur Tengah & Ukraina-Rusia Bikin Harga Komoditas Melejit
Tanggal 7 Oktober 2025 - Konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur kembali memanas, memicu ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global. Perundingan gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza dimulai, namun serangan militer masih berlanjut. Sementara itu, perang antara Ukraina dan Rusia menunjukkan eskalasi baru dengan serangan drone dan rudal yang semakin intens.
Di Gaza, perundingan tidak langsung antara Israel dan Hamas berlangsung di Sharm El-Sheikh, Mesir, dengan mediasi dari Amerika Serikat dan negara-negara Teluk. Fokus utama pembicaraan mencakup penghentian permusuhan, pertukaran tahanan, dan peningkatan bantuan kemanusiaan. Namun, meski dialog berlangsung, serangan udara Israel terhadap Gaza tetap berlanjut. Dalam 24 jam terakhir, sekitar 10 warga Palestina tewas akibat serangan ini. Salah satu hambatan utama dalam negosiasi adalah penarikan pasukan Israel dari Gaza dan pembongkaran senjata Hamas, yang masih menjadi titik perbedaan signifikan antara kedua pihak.
Di Ukraina, Rusia melancarkan serangan besar menggunakan lebih dari 500 drone dan rudal, menargetkan sembilan wilayah, termasuk kota-kota besar seperti Lviv dan Poltava. Serangan ini menyebabkan kerusakan infrastruktur signifikan dan menelan sedikitnya lima korban jiwa. Sebagai balasan, Ukraina menggunakan drone untuk menyerang fasilitas militer Rusia di wilayah yang diduduki, termasuk stasiun pemblokiran sinyal di Luhansk. Presiden Volodymyr Zelensky mengkritik respons Barat yang dinilai lambat dalam menghadapi eskalasi serangan ini.
Dampak kedua konflik ini terasa secara signifikan di pasar komoditas. Harga emas dan perak menguat tajam, karena investor mencari aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik. Reli logam mulia ini didorong oleh kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dan pangan global akibat eskalasi konflik, sekaligus pelemahan beberapa mata uang utama seperti euro dan yen. Harga minyak dunia juga meningkat, dipicu oleh potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah dan keterlibatan Rusia sebagai salah satu eksportir energi terbesar. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas rantai pasokan energi global yang bisa terganggu lebih lanjut jika konflik terus berlanjut.
Situasi ini terus dipantau secara intensif oleh badan-badan internasional dan pemerintah terkait, dengan harapan bahwa negosiasi diplomatik akan membawa solusi yang dapat meredakan ketegangan sekaligus menstabilkan pasar komoditas global. (mrv)
Sumber: Newsmaker.id